Ujian dapat menjadi awal kebebasan

Beberapa bulan lalu, saya menerima pesan di inbox Facebook tentang rencana beberapa teman dari sebuah yayasan Islam untuk membuat kegiatan keislaman di penjara (lembaga pemasyarakatan/ lapas) anak pria Tanggerang. Di antara kegiatannya adalah mengumpulkan buku-buku Islam untuk dibagikan kepada anak-anak di lapas yang sebagian besarnya adalah Muslim. Kegiatan Islam yang rutin ini menjadi sangat mendesak untuk dilakukan karena ada yayasan Kristen yang berkunjung ke lapas secara intensif. Mereka memberikan kursus bahasa Inggris serta beberapa kegiatan lainnya kepada anak-anak lapas dan membagi-bagikan makanan setelah kegiatan yang mereka adakan.

Sayangnya, kegiatan dari yayasan Islam ini belum mampu untuk mengimbangi kegiatan lembaga Kristen yang lebih sering berkunjung ke lapas anak pria tersebut. Sebabnya mudah ditebak: keterbatasan dana dan SDM. Sebenarnya bukan tidak ada sama sekali lembaga-lembaga Islam yang berkunjung ke lapas tersebut. Tapi masalahnya mereka tidak berkunjung secara rutin. Biasanya hanya setahun sekali, untuk dipublikasikan di surat kabar, dan setelah itu tak ada kegiatan lagi, menunggu hingga tahun berikutnya. Selain itu ada juga para artis dan ustadz terkenal yang datang berkunjung, tetapi semuanya hanya dilakukan, meminjam istilah kawan dari yayasan Islam tadi, secara ‘tabrak lari’ dan tidak konsisten. Sehingga seorang petugas lapas yang biasa dipanggil pak haji berkata, “Kami nggak butuh artis Mbak, yang penting istiqamah.”

Saya sendiri tertarik untuk memberikan buku buat kegiatan di lapas itu, tetapi akhirnya tertunda karena tidak ada yang mengurusnya di Jakarta, sementara saya sendiri di Malaysia. Entah bagaimana jalannya, rupanya ada buku saya yang berhasil diperoleh teman-teman yayasan dan akhirnya sampai ke tangan dua orang anak penghuni lapas, Ibnu dan Nasrul. Buku itu, Ketika Allah Menguji Kita (versi Indonesia dari buku Bila Allah Menduga Kita yang terbit di Malaysia), rupanya sangat berkesan buat kedua anak lapas ini. Salah satu dari kedua anak itu mendadak jadi hobi baca setelah membaca buku tersebut. Kedua anak ini sering bertanya kepada teman-teman yayasan saat berkunjung ke lapas, “Kapan penulis buku ini datang?” (saya memang menyanggupi untuk datang kalau sedang berada di Jakarta). “Insya Allah nanti akan dikabari kalau sudah ada kepastian,” begitu jawaban yang diberikan kepada keduanya.

Salah seorang anak, Ibnu, sering termenung setiap kali ingat akan dosa-dosanya (saya sengaja tidak menyebutkan kesalahan yang mereka perbuat sehingga masuk penjara). “Apa dosa saya diampuni?” ia kadang berkata penuh penyesalan. Kepada Ibnu, saya titipkan pesan agar tidak berputus asa dan kehilangan harapan. “Kalau nanti ia bertanya lagi,” pesan saya pada kawan di yayasan itu, “berikan jawaban, ‘Ampunan Allah jauh lebih besar dari dosa-dosa kita. Jangan pernah merasa putus asa dari Kasih Sayang-Nya.’ Mudah-mudahan dia tidak terus merasa gelisah.”

Setelah Lebaran Iedul Fitri yang baru lalu, sekitar akhir Agustus 2012, akhirnya saya bisa berkunjung ke lapas anak itu, karena kebetulan sedang berada di Jakarta. Ibnu dan Nasrul langsung menghampiri begitu ada kesempatan. Mereka kelihatan senang sekali. Nasrul menceritakan tentang kesannya terhadap buku Ketika Allah Menguji Kita. Saya agak takjub karena sepertinya ia ingat sebagian besar isi buku itu. “Sebelumnya saya tak pernah membaca buku,” kata Nasrul. “Tapi ketika saya mulai membaca buku itu, saya tak bisa berhenti sampai selesai membacanya.” Alhamdulillah, saya bersyukur dalam hati.

Anak-anak lapas yang berusia antara 13-19 tahun itu kemudian mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan di mushala lapas. Ada sekumpulan anak lapas yang menyenandungkan qasidah yang indah, setelah itu mereka mendengarkan nasihat dan ceramah. Di akhir acara, kami membagikan buku-buku Islam yang tidak seberapa jumlahnya kepada mereka dan meminta mereka untuk saling berbagi dalam membacanya. Saat diminta untuk mengambil buku di bagian depan mushala, mereka berebut mengambil buku-buku itu seperti anak-anak yang sedang lapar berebut makanan. Tapi ini bukan makanan, ini buku. Mereka juga bukan anak sekolahan, mereka penghuni penjara! Kalau saja kami bisa memberi lebih banyak lagi kepada mereka.

Saat pulang ke rumah, saya berpikir, sebenarnya anak-anak ini mungkin membuka pikiran saya lebih banyak daripada buku saya membuka pikiran mereka. Untuk pertama kalinya saya melihat sendiri, bahwa di tepian ibu kota Jakarta, ada penjara yang berisi begitu banyak anak remaja. Mereka masuk ke tempat itu karena berbagai kejahatan: Narkoba, perzinahan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sebagian besar mereka Muslim dan mereka memiliki nama-nama Muslim yang bagus. Kebanyakan mereka jatuh dalam perilaku itu tampaknya disebabkan minimnya pendidikan yang baik di rumah-rumah mereka. Sebagiannya merupakan korban broken home.

Bagaimanapun, mereka memberi respons yang sangat bagus terhadap dakwah dan kegiatan Islam, walaupun kegiatan yang diberikan oleh yayasan Islam masih relatif minim, sementara ada tantangan misi dari yayasan non-Muslim. Semoga respons yang baik itu menjadi langkah awal yang dapat ‘membebaskan’ mereka, walaupun fisik mereka masih terpenjara di dalam lapas.

 

Alwi Alatas

Kuala Lumpur,

1 Muharram 1434/ 15 November 2012

Resensi Whatever Your Problem Smile


Judul : Whatever Your Problem, Smile :
“Memperoleh Kebahagiaan Hidup Melalui Cerdas Psikospiritual”
Penulis : Alwi Alatas
Penerbit : PT. Magnify Solution
Terbit : I, Februari 2011
Tebal : 252 halaman
Harga : Rp. 55. 000

Tetap Tersenyum Saat Menghadapi Masalah

“Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi karena disana ada kesempatan mengembangkan diri. Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri. Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif. Berusahalah mensyukuri kesulitan yang engkau hadapi sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu.”

Kemudahan dan kesulitan dua kata yang sering mengiringi derap langkah hidup kita. Seperti roda, hidup kadang di atas dan di bawah. Pandangan manusia tentang kesulitan dan tantangan selalu beraneka ragam. Ada yang memandangnya sebagai ujian. Tidak sedikit yang melihatnya sebagai musibah lalu mencoba lari dari kenyataan. Bahkan, ada yang sampai pada taraf putus asa kemudian mengambil jalan pintas, bunuh diri.

Di tiap kesulitan, kesukaran, musibah, problem, atau istilah lain yang senada, pasti ada jalan keluarnya. Sayangnya, ketidakmampuan untuk menggali hikmah dari setiap tahapan tantangan kerap membuat kita resah dan galau sehingga persoalan makin lama makin menjadi-jadi.

Buku ini memaparkan kiat-kiat bagaimana menghadapi itu semua. Yang perlu digarisbawahi, jangan sampai kita melepaskan diri dari aspek spiritual. Karenanya, penulis menggunakan pendekatan psikospiritual, yaitu pendekatan yang mengharmonikan perkembangan kejiwaan dengan nilai-nilai agama (Islam).

Penulis bernama Alwi Alatas yang kini tengah menempuh program doktoral di salah satu Universitas di Malaysia, mengemas pembahasan karyanya ini dengan cukup apik. Tiap bab dihubungkan dengan kisah-kisah inspiratif yang bisa membuat kita terdorong untuk berani menerima dan menghadapi tantangan sesulit apa pun itu. Contohnya, di masa Umar bin Khatthab, pernah terjadi pertempuran antara pihak tentara Islam dengan pasukan Romawi (Byzantium). Pertempuran tersebut berjalan berat sebelah. Pasalnya, pihak Romawi didukung dengan jumlah pasukan yang begitu banyak melebihi kekuatan pasukan kaum muslimin.

Dalam keadaan genting seperti itu, panglima perang Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menulis sepucuk surat kepada Umar yang isinya mengabarkan kekhawatirannya atas kekuatan musuh yang super besar itu. Umar membalas surat tersebut dengan menulis, “Bagaiman pun kesulitan yang dihadapi seorang hamba yang beriman, Allah akan melepaskannya juga dari kesulitan itu setelahnya, dan satu kesulitan (`usrin) tidak akan mengalahkan dua kemudahan (yusran).” (hal. 103).

Dalam buku ini disebutkan beberapa manfaat yang akan kita peroleh dari persoalan hidup. Pertama, problem dan kesulitan dapat menjadikan manusia lebih kuat dan tangguh. Kesulitan bukan momok menakutkan tapi merupakan ‘pelatih’ yang melatih mental dan fisik kita agar tahan uji. Kegagalan dalam menghadapi tantangan hal yang lumrah saja. Di sinilah pentingnya sikap pantang menyerah untuk terus mencoba bangkit.

Kesuksesan orang-orang di masa dulu dan sekarang tidaklah berarti bahwa mereka tidak pernah mengalami kegagalan. Mereka pasti pernah jatuh, gagal, dan terlilit kesulitan. Tapi mereka tidak menyerah yang pada akhirnya membuat mereka jauh lebih kuat dan berhasil. Micheal Jordan, seorang pebasket handal, pernah mengatakan, “I`ve failed over and over again in my life. That is why I succeed.” (hal. 85-88).

Kedua, problem membantu kita belajar. Imam Al-Ghazali pernah mengatakan dalam Ihya` `Ulumuddin, “Jika seseorang memiliki pikiran yang mendalam, maka keadaan apapun akan menjadi pelajaran baginya.”

Kita tentu juga mengenal Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu pijar. Kita hanya tahu kesuksesan yang diraih ilmuwan ini tanpa mencoba mengetahui bagaimana liku-liku proses menemukan karya yang kita nikmati hingga detik ini. Berkali-kali ia mengalami kegagalan dalam eksperimennya. Tidak kurang dua ribu kali percobaan telah ia lakukan bersama para asistennya dan selalu kandas. Sampai suatu kali, asistennya merasa jengah dan frustasi. “Semua usaha kita sia-sia belaka. Kita tidak mempelajari apa-apa!”

Kata Thomas, “Oh, kita sudah melangkah sejauh ini dan kita sudah belajar banyak. Kita mengetahui bahwa setidaknya ada dua ribu elemen yang tidak dapat kita gunakan untuk membuat lampu yang bagus.” (hal. 88-90).

Ketiga, problem membuat kita lebih sungguh-sungguh. Seorang yang hidup dengan tantangan lalu berpikir positif dalam menghadapinya akan bersungguh-sungguh dan bekerja lebih giat mengatasi semua itu (hal. 90-91).

Keempat, kesusahan dapat mengurangi dosa dan memberi pahala bagi orang-orang yang beriman. Ada banyak hadits yang bisa menjadi hujjah atas sisi positif dari sebuah kesulitan. Di antaranya, “Tiadalah seorang muslim menderita kelelahan, sakit, kegalauan, kesedihan, siksaan, gelisah hingga duri yang mengenainya melainkan Allah menghapus dengannya dosa-dosanya.” (hal. 92-94).

Selain semua itu, masih banyak sisi manfaat kesulitan lainnya yang dipaparkan oleh penulis. Buku ini mengajak kita untuk mengenali problem dan kesulitan hidup serta cara mengatasinya. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dilengkapi dengan banyak kisah, tabel, dan bagan atau diagram yang akan memudahkan kita untuk memahami keseluruhan isinya.

Meski telah banyak buku serupa tentang pengembangan diri atau motivasi namun buku yang satu ini banyak memuat kekhasan Islam dalam mengangkat moral seseorang. Jiwa manusia yang suci lalu terpengaruh oleh gaya hidup di sekitarnya terkadang membuat kotor dan berdebu. Cara mengusap dan membersihkannya kembali seperti sedia kala bisa dilakukan ketika kita mau mengenali kesejatian hidup yang sesungguhnya : Untuk apa kita hidup dan mau apa kita hidup di dunia ini ?

Saat rampung membaca buku ini, diharapkan pandangan kita terhadap problem dan kesulitan hidup berubah sepenuhnya. Demikian pula, dada akan menjadi lapang, beban terasa ringan, dan bibir lebih mudah tersenyum saat menghadapi masalah.

(Resensi buku ini telah dimuat di Majalah Cahaya Nabawiy, rubrik Resensi Buku, Edisi 99 Dzul Hijjah 1432 H / November 2011).

Ketika Allah Menguji Kita – Abu Mufidah

Selasa, 01 Maret 2011

 

KETIKA ALLAH MENGUJI KITA

 

Judul buku : KETIKA ALLAH MENGUJI KITA

Penulis : Alwi Alatas

Penerbit : TARBAWI PRESS

Cetakan : Mei 2010

Jumlah Hal : 259

Presensi : Abu Mufidah

Kesulitan dan ujian hidup tak pernah lepas dalam kehidupan ini. Ia menyatu dan lengket kemanapun kaki kita melangkah. Selalu ada yang lepas dan pergi dari kita. Namun tentu rasa syukur jangan kendur dan rasa sabar jangan hilang dalam diri kita. Karena nikmat yang kita dapat tentu lebih banyak daripada masalah yang ada. Maka ingatlah selalu pemberia Allah kepada kita. Ia berikan kepada kita dari segala arah. Dari atas kepala hinga kaki kita nikmat itu selalu kita rasa.

Kesehatan, keselamatan, ketersediaan makanan meski sedikit, pakaian, udara,air, ini adalah bagian dari dunia yang telah menjadi milik kita. Tapi mugkin kita tidak menyadari akan hal ini, bahkan kita angap remeh. Kita tidak menyadari nikmat ini hinga luput dari rasa syukur kita. Selain itu kita masih memiliki bibir, lidah, dua tangan, dan dua kaki yang tetap berpungsi normal dan selalu memudahkan kita untuk tetap beraktifitas.
Tidakkah kita ingat bahwa sebagian saudara kita ada yang tidak sanggup berdiri tegak dikarenakan kakinya hanya satu. Ingatlah teman kita yang tidak bisa melihat karena buta sejak lahir, padahal dia ingin sekali melihat indahnya dunia. Ada juga saudara kita yang tidak sanggup berbicara karena bisu, padahal kita masih bisa berbicara, bahkan kita sering mengumpat menjelekan-jelakan orang hingga orang lain sakit hatinya dikarenakan ulah bibir kita yang sok bisa bicara. Bisakah kita membayangkan diri kita berjalan tanpa kedua kaki. Apakah kita anggap enteng kita bisa tidur pulas, sementara orang lain sama sekali tidak bisa menikmati tidur karena ada penyakit. Apakah kita lupa bahwa kita hari ini masih bisa menikmati lezatnya makanan dan segarnya air minum, sementara teman kita sekarang masih ada yang terbaring lemas dirumah sakit, ia tidak bisa menikmati kelezatan makanan dan kesegaran air minum.
Terlalu banyak kita telah dianugerahi kenikmatan yang besar ini, namun syukur kita terasa hambar dan kadang tidak Nampak dalam diri kita orang yang bersyukur. Ataukah kita sudah di cap menjadi orang kufur nikmat. Kita mestinya harus koreksi diri kita masing-masing saat ini juga.
Setiap manusia tentu pernah menghadapi ujian dan cobaan serta masalah-masalah dalam hidupnya. Persoalan hidup merupakan hal yang lumrah. Namun terkadang manusia tidak sabar dalam menghadapinya. Saat mendapat masalah mungkin dia akan banyak mengeluh dan marah. Atau bahkan mungkin mempertanyakan takdir yang telah menimpanya. Padahal ujian dan masalah merupakan keniscayaan dalam hidup. Sebetulnya ia pungsi yang bisa memperkuat daya tahan serta mengangkat kedudukan kita. Sekiranya seseorang beriman dan bersabar, maka kesusahan dan kepedihan yang dirasakannya saat menerima musibah akan mendapat ganti yang lebih baik nantinya Insya Allah. Hal ini pulalah yang membuat Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam suatu kali tersenyum. Ketika para sahabatnya melihat Rasulullah tersenyum mereka terheran-heran dan bertanya mengapa beliau tersenyum, maka Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam menjawab, ‘’Karena heran terhadap keluh kesah seorang mukmin akibat sesuatu yang dideritanya. Jika ia mengetahui hikmah apa yang ada di dalam penderitaan tersebut, maka ia akan lebih menikmati hingga ia bertemu Allah subhanhuwata’ala. [Hr-Ibnu Abu Dunya, dari Ibnu Mas’ud]
Ada banyak sekali penjelasan semacam ini dari Rasulullah terhadap umatnya yang sedang dirundung kesusahan atau kepedihan. Ini adalah merupakan motivasi dan solusi yang indah bagi umat yang beriman untuk menyelesaikan persoalan demi persoalan yang menghantamnya. Dengan hanya meminta campurtangan Allah subahanahuwata’ala maka masalah apapun yang kita hadapi akan terselesaikan.
Buku ini lebih berbicara tentang persoalan keseharian kita dan kiat-kiat mengatasinya sejalan dengan tuntunan Islam. Hidup ini penuh dengan persoalan, dan kadang ia menghantam kita dengan keras. Namun, apa pun persoalannya, setelah Anda membaca dan memahami isi buku ini, insya Allah Anda akan memandang kehidupan ini dengan cara yang berbeda dan akan merasakan kenyamanan dan hidup penuh makna. Buku ini ditulis dengan bahasa populer dan dengan gaya tulisan yang mengalir dan komunikatif, sangat mudah untuk dipahami. Dari awal hingga akhir, halaman-halamannya dipenuhi dengan sejumlah ilustrasi dan kisah-kisah nyata yang menyentuh, contoh-contoh kasus, dan kutipan-kutipan dari al-Qur’an, Hadits, serta penjelasan orang-orang mendalam ilmunya berkenaan dengan problematika hidup manusia, dan perkataan orang-orang bijak. It’s really value to buy it; it’s a must-read book. Buku ini sangat renyah untuk dibaca, dan menjadi sebuah inspirasi dan renungan bagi kita.
Buku ini telah terbit di Malaysia (Bila Allah Menduga Kita) pada awal tahun ini dan dicetak ulang dalam waktu dua bulan saja. Ia juga berkali-kali masuk dalam best-sellers list mingguan versi dua toko buku besar di Malaysia,
Selamat Membaca
Diposkan oleh Abu Mufidah di 14:56

Jangan Hanya Melihat Bagian Bawahnya

Friday, November 12, 2010

Jangan Hanya Melihat Bagian Bawahnya

Disadur dari Buku “Ketika Allah Menguji Kita” oleh Alwi Alatas

Suatu hari seorang anak duduk bermain di lantai, sementara ibunya duduk di atas kursi sambil menyulam. Anak yang sedang bermain di lantai itu kemudian menoleh ke arah ibunya, memperhatikan apa yang tengah dibuat ibunya. Ia melihat sulaman ibunya dari bawah dan merasa heran.

Ia bertanya pada ibunya, “Apa yang sedang ibu lakukan?”

“Ibu sedang menyulam, Nak.” jawab ibunya sambil terus menusukkan jarum dan benang ke permukaan kain.

“Tapi buat apa?” anak itu masih bertanya heran. “Sulaman itu kelihatan buruk sekali. Hanya benang-benang yang tak beraturan dan tak menarik untuk dilihat.”

Ibunya tersenyum. Lalu ia memberi isyarat pada anaknya untuk berdiri. “Berdirilah, Nak!” ujarnya. “Lihat sulamannya dari atas sini.”

Anak itu berdiri dan menghampiri ibunya. Ia berjalan mendekat dan melihat sulaman karya ibunya dari atas. Ia merasa terkejut dan kagum pada keindahannya.

“Indah sekali sulaman ini, wahai Ibu. Padahal ia terlihat begitu buruk dari bawah sana.” kata anak itu.

Ibunya tersenyum sambil membelai kepala sang anak.

***

Seperti itulah kehidupan kita ini. Kita melihat perbuatan-Nya dari ‘bawah’, dari sudut pandang kita, dan sebagian darinya menjadi kelihatan sangat buruk dan tidak menyenangkan. Kita menjadi sering mengeluh dan menyalahkan-Nya. Kalau saja kita mau bersabar dan berusaha melihatnya dari tempat yang tepat, tentu kita akan memiliki sikap yang berbeda.

Pandangan mata kita hanya mampu melihat ‘bagian bawah’ dari disain yang ada pada kehidupan ini. Sementara dengan mata hati yang bersih dan pengetahuan yang lurus kita akan mampu melihat disain yang sesungguhnya di ‘bagian atas’, dari sudut pandang “Sang Pencipta Kehidupan”. Dan ketika itu kita akan melihat segala keindahannya. Ketika kita mampu melihat keindahan itu, kita tidak akan pernah mengeluh lagi. Kita akan merasa kagum dan penuh syukur pada disain kehidupan kita yang indah itu.

Posted by Satyadharma W. Mohammad at 10:22:00 AM

http://styagreennotes.blogspot.com/2010/11/jangan-hanya-melihat-bagian-bawahnya.html

Musibah sebagai Simulasi Kehidupan

Musibah sebagai Simulasi Kehidupan

Pernah mendapatkan persoalan kecil atau musibah yang ringan? Oh, tentu saja. Malah mungkin kita mengalaminya setiap hari. Dan persoalan yang kecil itu pun sering membuat kita uring-uringan dan merasa kesal seharian, bahkan setelah persoalannya sendiri sudah selesai. Tapi, pernahkah kita membayangkan bahwa persoalan-persoalan itu sebetulnya bisa menjadi sebuah simulasi yang bisa membuat kita lebih siap dalam menghadapi kesulitan yang lebih besar?

Pembaca tentu tahu apa yang kami maksud dengan simulasi. Simulasi adalah sesuatu yang perilakunya sama dengan hal yang riil atau nyata. Simulasi merupakan sesuatu yang ’tidak nyata,’ tetapi dirancang mirip dengan kenyataan. Karenanya simulasi bisa membantu kita untuk lebih siap dalam menghadapi kenyataan yang sebenarnya.

Musibah sebagai sebuah simulasi? Apa maksudnya? Berikut ini ada sebuah contoh yang mudah-mudahan bermanfaat.

Pernah suatu kali saya kehilangan dompet. Bukan hilang di jalan, tapi di rumah. Pagi-pagi saat siap berangkat keluar rumah, saya mencari dompet di tempat saya biasa meletakkannya. Dompet itu tidak ada di sana!

Saya mencari ke tempat-tempat lainnya, tapi tidak juga menemukannya. Sebetulnya, saya tidak tahu harus mencari kemana lagi, karena saya tidak pernah meletakkan dompet itu di tempat lain.

Apakah saya terlupa dan telah meletakkannya di tempat lain semalam. Saya coba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi malam sebelumnya. Saya pulang larut malam dalam keadaan kepala pening karena memang sedang sakit flu. Karena sudah sangat letih, saya tidak ingat apakah pada saat itu saya mengeluarkan dompet dan meletakkannya di tempat yang biasa. Saya ingat betul semalam pergi membawa dompet, tapi saya tidak ingat tentang dompet itu pada saat pulang.

Atau jangan-jangan dompet itu memang sudah tidak ada di saku pada saat pulang? Jangan-jangan ia terjatuh di mobil, karena dompet itu memang rasanya tidak betul-betul masuk ke dalam saku? Atau jangan-jangan dompet itu jatuh di jalan pada saat saya berada di luar kendaraan?

Kepala saya mulai terasa pening. Saya mulai khawatir dompet itu benar-benar hilang. Dengan perasaan gelisah saya kembali mencari-cari ke berbagai tempat, tapi tak juga menemukan dompet itu. Gawat, jadi dompet itu benar-benar hilang? Apa yang mesti saya lakukan sekarang?

Saya mulai membayangkan kerumitan yang akan terjadi sekiranya dompet itu memang hilang. Uang di dalamnya tidak banyak, tapi semua kartu saya ada di dalam sana. Kartu mahasiswa (student card), tiga kartu ATM, satu kartu SIM (license), roadtax motor (semacam STNK di Indonesia), dan ada beberapa kartu penting lainnya.

Kepala saya jadi semakin pening. Kenapa saya meletakkan semua kartu-kartu itu di dalam dompet, padahal saya tidak menggunakannya setiap hari, saya mulai menyalahkan diri sendiri. Mengapa tidak tinggalkan saja sebagian kartu itu di rumah, jadi kalau dompetmu hilang, kamu tidak perlu kehilangan semuanya? (Ups, saya jadi khilaf karena telah berandai-andai)

Ketika itu saya masih belum sepenuhnya yakin kalau dompet itu memang hilang. Tapi kejadian itu membuat saya berpikir tentang langkah-langkah antisipatif di masa mendatang. Saya mendapat sebuah pelajaran berharga pada saat itu: entah apakah dompetmu benar-benar hilang atau tidak, lain kali jangan pernah meletakkan semua kartu yang penting di dalam dompet. Bawa yang diperlukan saja!

Saya masih mencari-cari dompet itu. Dan untuk ke sekian kalinya mata saya tertuju pada tas yang biasa saya bawa. Mungkinkah dompet itu ada di sana? Sejak tadi saya memang belum memeriksanya, karena saya memang tidak pernah meletakkan dompet di dalam tas, terlebih lagi saat berada di rumah. Tapi apa salahnya mencoba.

Tas itu pun saya buka. Ada beberapa benda di dalamnya. Mata saya menatap sebuah benda berwarna hitam. Saya tidak begitu yakin, tapi tampaknya itu …. Dan saya pun mengambilnya. Ternyata itu memang dompet yang saya cari-cari sejak tadi. Perasaan pun menjadi lega seketika itu juga. Alhamdulillah ya Rabb.

Siapa yang meletakkan dompet itu di dalam tas? Saya sama sekali tidak ingat kalau semalam telah memasukkan dompet itu ke dalam tas. Atau mungkin istri saya yang memasukkannya ke sana sebelum ia berangkat pagi ini? Entahlah. Tapi itu semua tidak terlalu penting lagi. Yang penting dompet itu sudah kembali. Dan bersama dengan itu, hilang juga segala kerumitan dan kekhawatiran yang sebelumnya membayang-bayangi pikiran.

Tanpa menunggu lebih lama, saya langsung mengeluarkan semua kartu yang tidak perlu saya bawa dan saya letakkan di tempat khusus di rumah. Kini saya tidak perlu terlalu khawatir sekiranya dompet itu nantinya benar-benar hilang (tentu saja saya sama sekali tidak mengharapkannya, dan saya berdoa agar dompet itu jangan sampai hilang).

Bagaimanapun, peristiwa itu telah menjadi sebuah simulasi bagi saya. Dompet itu seolah-olah hilang, dan menimbulkan rasa khawatir. Tapi ternyata ia tidak benar-benar hilang. Kejadian itu justru telah membantu saya agar lebih siap dalam menghadapi situasi semacam itu di masa mendatang.

Sebelumnya saya sempat merasa khawatir karena kehilangan dompet. Tapi saya percaya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadith Nabi saw, bahwa rasa khawatir dan cemas itu akan diberi ganjaran oleh Allah. Kemudian ternyata dompet itu tidak hilang, dan saya justru mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian itu, yaitu supaya bisa meminimalisir kerugian pada waktu-waktu berikutnya.

Kehidupan ini ternyata menyediakan banyak simulasi dan latihan yang dapat membuat kita lebih sigap dan waspada dalam menghadapi berbagai persoalan. Dan Allah memberikan pahala kepada kita untuk setiap ketidaknyamanan yang kita rasakan yang telah ditimbulkan oleh persoalan atau ‘simulasi’ tadi. Sudah dilatih dan diberi kesiapan, diberi ganjaran pula. Ah, enak betul jadi orang beriman.

Karena itu jika kita mengalami musibah atau persoalan, jangan marah-marah atau berputus-asa. Belajarlah sesuatu dari peristiwa itu. Karena dalam berbagai persoalan itu memang terdapat banyak pelajaran yang indah dan baik buat kita, insya Allah.

Alwi Alatas,


Kuala Lumpur, 2010

Bakso Khalifatullah

Bakso Khalifatullah
Emha Ainun Nadjib

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.

30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!

Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika datang saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”

Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”

Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.

Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.

http://kenduricinta.com/pojok.php?id=94

Bersama Penulis Ketika Allah Menguji Kita di Riau Pos

Penulis Buku Ketika Allah Menguji Kita, Alwi Alatas
Menikmati Masalah dari Sisi Positif
7 September 2010

Laporan IDRIS AHMAD, Pekanbaru tuanidrisahmad@yahoo.com

Setiap manusia pasti memiliki masalah dalam hidupnya, karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Masing-masing orang berbeda dalam merespos masalah yang dihadapi.

Pada Selasa-Rabu (25-26 Agustus lalu) penulis buku best seller Alwi Alatas atas undangan Kelompok Kajian Tafaqquh dan Rumah Sakit Ibu dan Anak Zainab berada di Pekanbaru untuk membedah buku Ketika Allah Menguji Kita. Buku ini dibedah bersama pakar tafsir Dr Musthafa Umar.

Sebenarnya buku ini telah lebih dulu terbit di Malaysia, negara di mana ia sedang menempuh program doktoral saat ini, dengan judul Bila Allah Menduga Kita. Di negeri jiran itu, dalam delapan bulan, buku ini sudah empat kali cetak. Beruntung Riau Pos mendapat kesempatan menemani pria yang telah menulis 19 buku di rentang sepuluh tahun terakhir ini. Berikut hasil wawancara Riau Pos yang ditulis dengan gaya bertutur.

Kita seperti Anak Kecil
Intinya buku ini mengajak kita melihat ujian hidup dengan cara berbeda, biasanya kita dapat ujian suka mengeluh, protes sedih, marah seolah-olah kita tak bisa menerima, seolah-seolah kita merasa Allah itu tidak adil. Kita seperti anak kecil. Contohnya ada anak kecil sedang flu terus ada tukang es lewat. Anak ini minta es ke ibunya, tapi ibunya tak membolehkan. ‘’Kamu lagi sakit, jangan minum es,’’. Sang anak marah-marah, guling-gulingan, nangis. Lalu bilang ‘’ibu jahat’’.

Saat si anak sakit, dibawa ke Puskesmas, disuntik sama dokter. Ia kesakitan, nangis. Si anak menuding lagi ‘’dokter jahat.’’ Anak yang kalau di rumah kita jaga jangan sampai kena benda tajam, ini malah dibawa ke dokter, minta dokter menusuk anak dengan jarum, disuntik. Mengapa anak tadi bilang ‘’dokter jahat’’ ‘’ibu jahat’’?

Karena yang ia tahu permintaannya tidak dikabulkan, ia merasa sakit, merasa tidak nyaman dengan yang terjadi pada dia. Karena dia tahunya itu saja, maka ia protes. Mengapa ibunya melarang minum es, mengapa dokter menyuntik sang anak, padahal hal itu menyakitkan? Karena orangtuanya tahu jika permintaanya minum dikabulkan akan berakibat buruk, dokter tahu bahwa suntikan bisa membawa kebaikan buat si anak.

Manusia banyak seperti anak kecil. Dapat musibah, marah, tidak terima. Misalnya kita sudah rajin ibadah, gaji tidak naik-naik. Berdoa tiap malam, doa tak dikabulkan juga. Kita protes pada Allah. Tak menerima. Padahal yang lebih tahu mana yang baik siapa? Allah. Allah mau mengabulkan doa kita, yang tahu kapan waktunya yang tepat siapa? Allah. Mengapa kita harus protes!

Mengapa orang mengeluh ketika dapat ujian hidup? Pertama, karena kurang ilmu sehingga memiliki cara pandang yang salah dalam menghadapi ujian tersebut. Cara pandang yang salah pada gilirannya berdampak buruk pada dirinya. Itulah sebabnya mengapa saya melalui buku ini mencoba memahamkan orang dengan cara menghibur bahwa kita tak perlu mengeluh atau sedih berlebihan atau kecewa karena memang hidup ini selalu ada ujian. Kita perlu melihat ujian secara positif dengan cara berberprasangka baik pada Allah.

Sering secara tak sadar kita mengeluh, protes, marah. Kita telah protes pada Allah. Seolah-olah kita mempertanyakan Allah, menyalahkan Allah. Padahal Allah menetap ujian itu dengan ilmu-Nya dengan hikmah-Nya. Tak ada yang salah di situ, hanya kita belum tahu apa hikmah di balik ujian tadi. Dengan kita yakin ada hikmah di balik itu, Insya Allah kita akan lebih tenang

Kedua, sebetulnya — kalau kita paham — ujian itu diperlukan oleh hidup. Karena hidup ini mustahil tanpa ujian, ujian itu justru bisa membantu, bisa menguatkan diri kita. Adanya tantangan justru membuat kita lebih kuat. Satu contoh di dunia hewan, ikan yang hidup di air yang deras ia akan tumbuh lebih besar ketimbang di air yang tenang. Ada tantangan, ada arus air yang kuat sehingga membuat dia terus bergerak. Begitu juga kita, ujian dan cobaan membuat kita memiliki daya tahan yang lebih besar. Itulah di antara kebaikan yang terdapat dalam ujian.

Hal yang lain lagi, ketika mendapat ujian, besar kecilnya dipengaruhi persepsi kita tentang ujian tadi. Ada orang dapat ujian yang kecil, tapi dia mempersepsi ujian itu sebagai hal yang besar. Dia melihat ujian itu sebagai hal yang besar, maka dia pun merasa sangat terbebani. Ada orang yang mendapat ujian yang berat tapi ia merasa ujian itu sesuatu yang kecil sehingga ujian tadi tidak terlalu menyusahkan dia. Latihan kesabaran, membiasakan diri bersabar akan membantu kita melihat ujian-ujian tadi sebagai sesuatu yang biasa saja dan kita tidak melihatnya sebagai sesuatu yang terlalu berat.

Ada kata-kata terkenal menyebutkan kalau kita mendapat masalah sebesar apapun masalahnya jangan katakan ‘’Wahai Allah, aku punya masalah yang besar’’ tapi katakan ‘’wahai masalah, aku punya Allah yang Maha Besar’’.

Ketika kita yakin bahwa kita bersandar pada Allah, kita bersabar sesuai dengan tuntutan Allah. Yakin Allah akan menolong. Berdoa pada Allah, maka Insya Allah kita akan selalu menemukan jalan keluar setiap masalah. Kita juga mesti ingat, karena persoalan itu bagian dari hidup, kita selalu berjumpa dengan masalah. Lagi-lagi masalahnya bukan persoalan itu sendiri tapi bagaimana kita menyikapinya.

Untuk mendapat jalan keluar caranya kembali pada Islam dan bersandar pada pertolongan Allah. Kalau kita mendekatkan diri pada Allah, kita kuatkan keimananan, kita sampai derajat taqwa, Allah jamin ‘’siapa yang bertaqwa maka Dia akan memberi baginya jalan keluar.’’ Usaha untuk menemukan jalan keluar jelas diperintahkan. Tapi dibukanya jalan keluar adalah karena bantuan Allah. Kita berusaha, nanti Allah akan memberi jalan keluar. Seiring usaha, seiring dengan pertolongan Allah, pada waktu yang Allah paling tahu kapan waktu paling baik, kita akan menemukan jalan keluar terhadap persoalan yang kita hadapi.

Ketika kita ditimpa masalah, maka harus bersabar dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mengucapkan itu dengan pemahaman bahwa semua datang dari Allah dan akhirnya kembali pada Allah. Kalau kita punya sesuatu, kemudian sesuatu itu hilang, maka itu semua takdir Allah, Allah yang mengambilnya, semua kembali pada Allah.

Dengan begitu kita lebih bisa menerima. Setelah itu berdoa minta pada Allah. Insya Allah nanti Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Banyak yang terjadi, ketika seseorang mendapat masalah yang besar, biasanya pandangan dia tertuju pada masalah itu sampai seolah-olah itulah seluruh hidup dia. Ketika itu belum kelihatan jalan keluar. Dia merasa memang mungkin tak ada jalan keluar karena begitu beratnya masalah.

Dalam Quran Allah berfirman inna maal usri yusro, fainna maal ‘usri yusro, setelah kesulitan itu ada kemudahan. Ayat ini diulang sampai dua kali. Artinya saat dapat musibah kita harus yakin bersama kesulitan itu ada kemudahan, ada jalan keluarnya. Seorang ulama mengatakan ‘’ketika dengan hikmah Allah, sebuah jalan ditutup di hadapanmu, maka dengan rahmat-Nya Allah akan membuka jalan lain yang lebih baik dari jalan yang pertama.’’

Tapi persoalannya lagi-lagi seperti kata seorang ahli motivasi di Barat. ‘’Ketika seseorang mendapatkan masalah dia seringkali tertegun terlalu lama di depan masalahnya. Ketika sebuah pintu tertutup di depan dia, seringkali dia tertegun terlalu lama di depan pintu itu, sampai-sampai ketika ada pintu lain terbuka dia tidak melihatnya.

’’Itulah sebabnya, saat terjadi musibah seberat apapun dan kita belum mendapatkan jalan keluarnya, maka katakan pada diri kita ‘’Ini memang suatu hal yang berat tapi Insya Allah setelah ini Allah akan beri kemudahan.’’ Sikap ini akan membuat kita jadi lebih tenang, lebih optimis dan kita dapat menjalani hidup seperti biasa.

Menikmati Masalah
Untuk menikmati masalah perlu proses, karena mungkin kita sudah memiliki kebiasaan-kebiasaan lama terkait dengan respon terhadap musibah. Ketika mendapat sesuatu yang tidak enak, kita sudah biasa mengeluh. Untuk sampai pada tahap sabar, menghilang keluhan, kita perlu berlatih, perlu membiasakan.

Saat proses berlatih, kadang-kadang masih kembali pada kebiasaan lama. Artinya menuju perubahan dalam bersikap, kita pun perlu bersabar, perlu terus melatih diri hingga menjadi terbiasa. Cara yang paling tepat untuk menikmati hidup tentu saja dengan pemahaman, dengan ilmu, ketika kita ma’rifah pada Allah, kita kenal dengan Allah, mengetahui sifat-sifat Allah maka semakin mendalam pemahaman, kita akan semakin sabar setiap kali mendapatkan musibah. Setelah itu mendekatkan diri pada Allah (muroqobatullah).

Semakin dekat dengan Allah, kita pun semakin tenang. Karena sebesar apapun musibah kita yakin dan bersandar pada Allah yang Maha besar. Setiap dapat musibah kita terbiasa melihat hal yang positif dari musibah tadi.

Biasanya ketika dapat musibah, kita melihat yang tidak enaknya saja, yang negatif saja. Kita lupa bahwa Allah masih menyisakan banyak hal-hal positif untuk kita. Jika sudah terbiasa melihat hal yang positif tadi, Insya Allah kita akan lebih menikmati. Setiap kali kita ingat bahwa di balik musibah itu Allah akan mengganti dengan yang lebih baik, kita pun akan lebih menikmati.

Misalnya ketika ditimpa sakit, maka sesungguhnya sakit itu adalah sarana bagi penghapusan dosanya. Ketika kehilangan sesuatu, maka sesungguhnya itu bernilai sedekah. Apa yang hilang itu akan jadi sedekah.

Sebuah kisah menceritakan ada seorang perempuan tua sedang membersihkan perabot rumahnya, karena sudah tua tangannya gemetar sehingga salah satu perabot mahal terjatuh dan pecah. Mungkin bagi sebagian orang akan jengkel kesal, uring-uringan. Perempuan tua tadi tidak. Ia beristighfar dan senyum sendiri sambil bercanda. ‘’Untung kamu (perabot, red) duluan, bukan saya. Untung perabot itu duluan yang ‘’mati’’ bukan saya’’.

Kisah lain seorang ibu yang tuli. Ia naik bis, ternyata dalam bis itu ada orang memakai alat bantu dengar. Sang ibu ini tersenyum melihat orang tadi dan dalam hatinya bergumam ‘’kamu tidak bisa mendengar saya bisa tahu (karena menggunakan alat bantu, red). Nah, saya tidak bisa mendengar, kamu pasti tidak tahu’’.

Artinya kita bisa belajar menikmati kesulitan dengan cara yang ringan seperti ini. Ini akan membantu kita. Lihatlah kesulitan itu dari sisi positifnya. Lihat nikmat yang begitu banyak yang masih Allah berikan. Sehingga dengan cara begitu pandangan kita tertuju kepada nikmat bukan kepada musibah. Makin sering kita melihat nikmat hati kita semakin bersyukur.

Salah Menyikapi, Lipatkan Masalah
Ketika kita salah menyikapi musibah, efeknya akan berlipat makin serius. Contoh kasus, ada seorang nasabah menyimpan uangnya Rp2 miliar di sebuah bank. Beberapa waktu kemudian terjadi krisis moneter di Indonesia 1997 lalu. Sehingga bank tersebut tutup. Lalu pemerintah mengambil alih bank itu.

Ditetapkan uang nasabah yang dikembalikan hanya yang bernominal Rp2 juta ke bawah. Tabungan di atas dua juta, dikembalikan dua juta dulu, sisanya akan dikembali pada waktu yang belum ditentukan.

Akhirnya nasabah tersebut stres, tidak mau makan, memikirkan hal itu setiap hari. Akhirnya jatuh sakit. Masuk rumah sakit, tetap tak mau makan hingga kondisinya makin parah. Beberapa hari kemudian ia pun meninggal dunia. Inilah contoh salah menyikapi masalah. Sebelum nasabah tadi mengetahui duitnya hilang dia tidak sakit, tidak stres. Sebetulnya dia stres dan sakit bukan karena duitnya hilang. Tapi karena mengetahui duitnya hilang. Kalau duit hilang tapi dia tidak tahu pasti tidak kepikiran.

Beberapa tahun setelah kematian, akhirnya pemerinth mengembalikan uang nasabah tersebut. Tapi orangnya sudah mati. keluarganya yang menerima. Jika dia benar dalam merespon musibah itu, ia akan tenang, sebab dia masih punya Rp2 juta.

Bukankah uang Rp2 miliar datangnya dari Allah, kalau Allah mau mengambil kapan saja bisa. Semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Sedih adalah wajar, tapi kita dapat menetralisir kesedihan itu dengan kesabaran. Kita yakin apa yang Allah tetapkan itu baik.

Raja-Menteri Positive Thinking
Berikut ini adalah cerita bagaimana seseorang memandang ujian hidup dari sisi positif. Kisah ini diceritakan oleh seorang ulama abad pertengahan, jauh sebelum ada teori positive thinking. Di sebuah kerajaan dulu ada seorang raja dan menterinya. Menteri ini sangat dekat raja. Menteri ini unik, ia sangat berpikir positif, positive thinking. Hal apa saja yang ditanya kepadanya, ia selalu menjawab ‘’baik, bagus.’’

Suatu ketika jamuan makan bersama. Raja sedang memotong buah-buahan, dan tidak sengaja sengaja ujung jarinya teriris. Raja pun kesakitan, lalu oleh pelayannya diobati. Kemudian raja bertanya ke menteri yang positive thinking ini. ‘’Apa pendapatmu tentang ini?’’. Menterinya menjawab ‘’baik, bagus raja.’’

Serta merta rajanya marah. Tangannya kesakitan, malah dikatakan baik oleh menterinya. Raja bertanya kembali ‘’Coba ulangi apa pendapat kamu tentang ini?’’ Menterinya masih dengan senyum menjawab ‘’baik raja’’. Lalu raja memanggil pengawal untuk memasukkan sang menteri ke penjara. Di sel selama semalam.

Besoknya raja mendatangi menteri tersebut di selnya dan bertanya ‘’apa pendapat kamu tentang keadaan kamu di penjara?’’. Lagi-lagi sang menteri dengan senyum khasnya menjawab ‘’baik raja’’. Bertambah marah raja, dia sebenarnya tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Akhirnya sang menteri tetap di penjara.

Beberapa hari kemudian, raja ingin berburu ke hutan. Biasanya ia ditemani oleh menteri yang positive thinking tadi, tapi karena sedang dipenjara, maka diajaklah menteri yang lain yang tidak biasa berburu. Saat asyik mengejar buruan, menterinya tertinggal dan berpisah dengan raja. Raja masuk terus ke hutan akhirnya tersesat sendirian. Mencari jalan keluar bukannya ketemu, malah makin jauh tersesat. Sehingga masuk ke sebuah kampung berpenduduk penyembah berhala.

Penduduk kampung itu mau menyelenggarakan kurban buat berhala-halanya. Kebetulan ada orang asing masuk. Ditangkaplah raja tadi. ‘’Ini cocok buat kurban, orangnya bagus, terawat, tentu tuhan-tuhan kita senang’’ begitu pendapat pemuka kampung. Si raja pucat, stres. Upacara pun disiapkan. Pada hari ‘’H’’ raja itu sudah diikat, semua penduduk sudah berkumpul. Dukun sudah baca mantra, begitu sang kurban mau dibunuh, dukunnya melihat di jari sang raja ada bekas terpotong, ada cacat.

Dukun itu pun memerintahkan penduduk untuk membatalkan membunuh sang raja, karena orang ini ada cacatnya. ‘’Kita hanya memberi yang sempurna buat tuhan-tuhan kita’’ begitu katanya.

Singkat cerita penduduk melepas sang raja. Si raja bingung. ‘’Tadi sudah hampir mau mati, tapi sekarang malah dilepas,’’ gumam raja. Sambil berjalan pulang raja merenung. ‘’Saya tidak jadi dibunuh, tidak jadi dikurbankan gara-gara jari saya ada cacat bekas terpotong’’.

Raja pun ingat dialog dengan menterinya. Saat ia terluka ketika sedang memotong buah di jamuan makan, sang menteri menjawab ‘’baik’’ ketika ditanya soal itu. Raja pun berkata: ‘’Kalau begitu betul kata menteri.’’

Singkat cerita ia pun sampai ke kerajaannya kembali dan langsung menemui sang menteri positive thinking di penjara dan menceritakan pengalamanya. Mendengar cerita itu sang menteri menjawab: ‘’Saya di penjara juga baik raja’’.

Raja balik bertanya ‘’kenapa begitu?’’ Menteri positive thinking itu sambil tersenyum menjawab: ‘’Karena, kalau tidak dipenjara pasti saya yang menemani raja berburu. Kita berdua ditangkap, raja tidak jadi dijadikan kurban, maka saya yang ditangkap dijadikan kurban, sebagai pengganti raja.’’

Ulama yang menceritakan kisah ini saat menutup kisahnya mengatakan ‘’semua yang Allah tetapkan adalah baik, hanya kita tidak selalu tahu apa kebaikannya.’’ Karena itu kita harus berprasangka baik kepada Allah, percaya kepada Allah dan jangan terlalu bersedih ketika mendapatkan musibah, sebaliknya ketika mendapat nikmat kita bersyukur pada Allah.

Proses Kreatif Buku Ini
Penulisan buku Ketika Allah Menguji Kita ini banyak dipengaruhi dari karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Saya baca versi Indonesia, judulnya Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu. Buku ini cukup berat memahaminya dan mendalam. Isinya banyak mengulas tentang takdir. Sangat menyentuh dan memberikan pemahaman. Saya mesti membaca berulang-ulang untuk memahaminya. Sementara itu masih banyak orang-orang awam dan mereka perlu diberi penjelasan dengan cara yang mudah.

Itulah awal saya memutuskan untuk menulis buku ini. Judul awalnya ‘’Menikmati di Balik Takdir’’ tapi takdirnya buku itu tidak bisa terbit dan ditolak oleh berbagai penerbit. Tentu saja banyak hikmahnya. Dulu ditulis tidak sedialogis buku ini. Buku ini lebih komunikatif.

Karena ditolak penerbit akhirnya draft-nya saya simpan. Ada kesempatan saya tulis ulang, ada kesempatan lagi ditulis ulang lagi. Hingga — alhamdulillah — Allah beri peluang terbit di Malaysia dan mendapat respon positif. Tujuan penulisan buku ini ingin memahamkan kepada pembaca bahwa takdir itu memiliki hikmah yang mendalam. Saya coba menceritakan dibumbui kisah dengan bahasa yang mudah, supaya pembaca mudah memahami.

Saya tidak ingat berapa lama proses penulisan hingga terbit. Mungkin tiga tahun. Referensi bertambah terus, pertama referensi utama buku Ibnu Qoyyim tersebut, ditambah dengan buku-buku lain. Lalu ketika ditulis ulang, rujukan bertambah terus, ada rujukan untuk kisah, ada rujukan untuk contoh kasus termasuk dari berita koran.

Sejauh ini tidak ada waktu khusus untuk menulis, dulu waktu mahasiswa kalau lagi asyik menulis, kadang dari malam sampai pagi. Artinya ketika lagi dapat ide sayang untuk ditinggalkan, kalau ditinggalkan bisa lupa. Tapi sekarang ini tidak ada waktu khusus, tapi ketika ada waktu luang, saya coba sempatkan untuk menulis. Tapi yang paling penting kita tidak boleh ketinggalan banyak baca. Rujukan-rujukan kita baca, karena dengan bacaan itulah nanti memudahkan kita dalam proses menulis.

Orang Berilmu, Menulislah!
Menulis ini perlu pembiasaan, perlu motivasi. Keinginan untuk melahirkan sebuah karya. Di awal memang lebih berat dibanding setelah itu. Setelah terpublikasi satu buku, biasanya ketagihan, ingin nulis lagi dan ingin lagi.

Saya sendiri ingin memotivasi kepada kalangan ustad, teman-teman yang punya wawasan yang baik, ilmu yang baik, nasihat-nasihat yang baik, alangkah bagusnya kalau bisa ditulis. Dilatih kemampuan menulis supaya pesan itu bisa disebarkan kepada masyarakat luas. Karena tulisan pengaruhnya lebih ‘’abadi.’’

Berbeda dengan ceramah, memori pesan dakwah kembali kepada orang-orang yang dengar saat itu dan mungkin tidak bertahan lama, tapi kalau tulisan setiap waktu orang mau merujuk orang bisa lihat tulisan tadi.

Alangkah bagus semakin hari semakin banyak dari kalangan muslim yang bisa melahirkan karya-karya yang bagus dan dibaca oleh masyarkat luas. Kita sedih, sekarang banyak buku-buku yang best seller ditulis oleh non muslim. Banyak yang isinya tidak bagus, sehingga pesan yang sampai ke masyarakat juga tidak bagus.

Kalau saja dari kita banyak yang bisa menuliskan yang bagus kemudian tersebar luas di masyarakat bahkan dengan marketing yang diperhitungkan juga tak apa-apa, asal tetap jaga keikhlasan, kita niatkan semakin tersebar luas dalam rangka dakwah. Supaya pesan yang positif itu sampai kepada masyarakat luas. Insya Allah tulisan itu akan menjadi amal yang terus berkelanjutan. Selama orang baca Insya Allah kita dapat pahalanya.***

Alwi Alatas SS
e-mail : alwialatas@gmail.com, alwialatas@yahoo.com
website : http://alwialatas.multiply.com
Buku:
* Revolusi Jilbab: Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1982-1991. 2001, Jakarta: Al-Itishom
* Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel. 2005, Jakarta: Zikrul Hakim
* Sang Penakluk Andalus, 2007, Jakarta: Zikrul Hakim
* Bahkan Para Nabi pun Iri, 2002, Jakarta: PT Akbar
* Agar Kamu Bertaqwa (Laallakum Tattaqun), 2002, Jakarta: Daarut Tarbiyah (DATA).
* Bila Allah Menduga Kita, 2010, Mustread/Ketika Allah Menguji Kita, 2010, Tarbawi Press
* Remaja Gaul Nggak Mesti Ngawur: Menggugat Konsep Remaja Modern, 2004, Jakarta: Hikmah-Mizan
* (Untuk) 13+, Remaja Juga Bisa Sukses, Bahagia, Mandiri, 2005, Jakarta: Pena.
* Bikin Gaulmu Makin Gaul, 2006, Jakarta: Hikmah-Mizan.
* Proud to be Muslim. 2006, Bandung: Syamil.
* The Real Idol, 2006, Bandung: Syamil.
* Biarkan Jilbabku Bersemi Indah, 2003, Jakarta: Zikrul Hakim
* Si Kamil dan Kaleng Cat, 2005, Jakarta: Hikmah-Mizan
* Si Kamil and the Gank, 2005, Jakarta: Hikmah-Mizan
* The Straight Path, 2006, Zikrul Hakim
* Si Kamil: Rumah Anker, 2006, Hikmah-Mizan

http://www.riaupos.com/new/artikel.php?act=full&id=111&kat=13