Salahnya Yahudi

Alwi Alatas

Minggu, 10/01/2010 08:13 WIB

Beberapa tahun yang lalu saat berbicara di depan mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, Dr. Tariq Ramadhan sempat menyinggung tentang sikap umat Islam kontemporer yang sering bersikap berlebihan terhadap orang-orang Yahudi. Banyak yang secara sadar atau tidak telah menisbatkan berbagai persoalan yang menimpa kaum Muslimin kepada orang-orang Yahudi.

Setiap kali mendapati simbol yang berbau Yahudi maka mereka merasa ada konspirasi Yahudi di baliknya. Bahkan terhadap sebuah kotak makanan sederhana yang dipenuhi motif bintang segi enam barangkali akan menyebabkan kita merasa catering yang menyiapkan makanan tersebut telah terlibat gerakan Yahudi internasional, demikian kurang lebih penjelasan cucu Hasan al-Banna ini.

Bulan lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2009, dalam sebuah diskusi tentang Leopold Weiss atau Muhammad Asad di Kuala Lumpur, beliau juga sempat menyinggung hal yang sama. Leopold Weiss merupakan seorang Yahudi Eropa yang masuk Islam dan kemudian melibatkan diri dalam gerakan revivalis Islam.

Tariq Ramadhan menjelaskan bahwa banyak umat Islam yang ketika mendengar seorang Yahudi masuk Islam dan mereka menyukai keislamannya, maka mereka akan berseru dengan gembira, ”He is a Jew.” Tapi saat mereka tidak setuju dengan pemikirannya maka mereka akan mencurigai seluruh motif yang dimilikinya, ”Be careful, he is a Jew.” Padahal seharusnya kita menjauhi sikap semacam ini.

Mungkin Tariq Ramadhan betul, kita seringkali terlalu berlebihan dalam menganggap persoalan-persoalan yang terjadi pada diri kita sebagai perbuatan yang direkayasa oleh orang-orang Yahudi.

Secara tidak sadar kita telah ikut menciptakan sebuah gambaran tentang kedigdayaan Yahudi yang begitu hebat dan tak tertandingi. Bahkan pada tingkat tertentu, terutama saat berbicara tentang teori konspirasi, kita ikut mendukung citra orang-orang Yahudi yang nyaris bisa berbuat apa saja untuk mengendalikan dunia. Seolah mereka itu Tuhan yang bisa mengendalikan perjalanan sejarah sekehendak hati mereka.

Tentu saja kami tidak bermaksud mengabaikan banyaknya kerusakan yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, khususnya oleh mereka yang tergabung dalam zionisme internasional dewasa ini. Mereka memang telah melakukan berbagai kerusakan dan rekayasa yang merugikan kaum Muslimin dan kemanusiaan secara umum. Tapi kita toh tidak bisa selalu menyalahkan orang lain untuk persoalan yang menimpa diri kita. Sumber masalah sebenarnya tidak terletak di luar sana, tetapi ada pada diri kita sendiri. The problem is not out there …, it is within ourselves.

Mungkin banyak penceramah dan ustadz selama ini telah bersikap kurang arif saat menyampaikan kepada khalayak ramai tentang kejahatan yang dilakukan segolongan Yahudi. Hal ini menimbulkan kesalahpahaman yang serius di kalangan sebagian kaum Muslimin. Sampai-sampai, seperti yang dikatakan seorang kawan, ”sekiranya ada dua ekor ikan berkelahi di laut, mungkin kita akan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi-lah yang menjadi penyebabnya.” Seolah Yahudi merupakan akar dari segala jenis kejahatan dan merupakan virus untuk segala jenis penyakit yang menimpa umat. Dan karenanya kita memerlukan sejenis salep anti-Yahudi untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang ada pada diri kita.

Dalam hal ini kita jadi seperti orang tua yang tidak mendidik anak-anak kita dengan baik. Setiap kali anak jatuh karena berlari dan melompat-lompat tanpa kendali, maka kita akan berkata, ”Kenapa Nak? Kamu jatuh? Hmm, lantai ini memang nakal karena telah membuat kamu jatuh. Sini biar ayah pukul lantainya.”

Jelas bukan lantainya yang salah, tapi sikap si anak yang tidak berhati-hati dalam bermain. Mengapa tidak kita jelaskan duduk persoalannya dengan lebih jujur, agar anak tadi bisa bersikap lebih dewasa dan karenanya lebih mampu untuk menjaga diri dari terjatuh ke dalam persoalan yang sama?

Sikap yang tidak tepat ini telah menciptakan perasaan yang tidak kondusif di tengah masyarakat Muslim. Kita jadi merasa takut dan benci secara berlebihan terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan tanpa sadar barangkali sebagian dari kaum Muslimin telah merasa kagum secara berlebihan atas ’kehebatan’ komunitas Yahudi. Hal ini sempat diceritakan oleh seorang ustadz yang merasa kesal dengan komentar tamunya yang memuji kecerdasan anak ustadz tadi sambil berkata, ”Pintar sekali anak ini, seperti Yahudi saja.” Ustadz tersebut menjawab dengan nada jengkel, ”Apakah di dunia ini hanya orang-orang Yahudi saja yang pintar, sementara orang-orang lainnya bodoh?”

Sebetulnya kesan semacam inilah yang terus-menerus coba dibentuk oleh masyarakat Yahudi, bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas, brilian, powerful, dan pada akhirnya tak tertandingi. Mereka telah berhasil menanamkan kesan ini kepada masyarakat dunia, dan juga kepada kaum Muslimin. Sampai-sampai ada seorang ’intelektual Muslim’ Indonesia yang pergi ke Israel belum lama ini dan menyatakan kekaguman yang luar biasa terhadap masyarakat Yahudi di sana. Dengan nada takjub ia mengatakan bahwa dari ”setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas.” Kata-kata orang ini sama sekali tidak perlu dipertimbangkan, karena ia jelas tidak bisa berhitung dan karenanya memiliki tingkat kecerdasan dan pemahaman yang meragukan.

Setiap kali kita membahas persoalan-persoalan dunia yang ditimbulkan oleh orang-orang Yahudi kita perlu berhati-hati agar jangan sampai menimbulkan kesan semacam ini di tengah umat. Sebetulnya orang-orang Yahudi tidak sehebat dan sekuat yang kita bayangkan. Kalaupun pada hari ini mereka berkuasa, maka itu karena mereka mau belajar, bekerja keras, dan menyatukan langkah mereka. Sementara kita kalah karena kelalaian kita sendiri, bukan karena kesalahan pihak lain. Kita telah terlalu lama berkubang dalam kebodohan, kemalasan, dan kesenangan berkonflik dengan saudara sendiri. Dan yang terpenting, kita telah menjauhkan diri dari sumber dan akar kita sendiri, yaitu Kalamullah dan suri tauladan Nabi.

Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan pada kita bahwa persoalan utama kita disebabkan oleh musuh-musuh di luar sana. Al-Qur’an memang menjelaskan upaya-upaya makar yang dilakukan musuh, tetapi ketika umat Islam tergelincir dan kalah, maka kesalahan utamanya ada pada diri mereka sendiri, bukan pada pihak lain. Ketika kaum Muslimin kalah di Perang Uhud, al-Qur’an tidak menyatakan bahwa hal itu disebabkan oleh makar musuh, melainkan kekalahan itu telah disebabkan oleh kelalaian sebagian kaum Muslimin sendiri (QS 3: 152-154).

Tulisan ini sama sekali tidak menganjurkan agar para penulis dan peneliti yang mendalami tema-tema Freemasonry, Zionisme internasional, dan teori konspirasi untuk menghentikan upaya mereka. Tetapi mereka perlu menghindarkan diri dari hal-hal yang secara tidak langsung akan ikut mendukung kepentingan zionis sendiri, seperti pencitraan kedigdayaan Yahudi sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Kajian-kajian ini perlu dikembangkan untuk memahami kelebihan dan kelemahan musuh serta strategi yang mereka gunakan, serta memberikan informasi kepada umat tentang ancaman yang menghadang mereka. Sementara pada saat yang sama perhatian yang lebih besar perlu ditujukan untuk mempelajari kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan sehingga menyebabkan keterpurukan seperti sekarang ini. Kemudian berangkat dari sana kita memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang ada, mulai dari yang paling serius hingga ke masalah-masalah internal yang lebih ringan.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa orang-orang Yahudi tidak sehebat yang kita bayangkan. Mereka juga memiliki persoalan mereka sendiri. Komunitas zionis internasional berkuasa karena umat Islam lemah dan tidak mau bangkit. Mereka berhasil mempertahankan kekuasaan mereka antara lain dengan terus menerus mengupayakan agar kaum Muslimin tertidur lelap dalam kelalaiannya. Ini memang kepentingan dan pekerjaan mereka. Masalahnya adalah mengapa kaum Muslimin mau dilalaikan dan mengapa mereka membiarkan diri mereka terus merosot dalam kemunduran. Pada saatnya kaum Muslimin sadar dan berhasil mengatasi persoalan yang ada di dalam diri mereka, maka pada saat itu umat akan kembali unggul dan menang, tanpa mampu dihalangi oleh kepintaran Yahudi manapun.

Jadi, kita tidak memerlukan salep anti-Yahudi untuk mengatasi berbagai penyakit dan keterpurukan kita. Yang kita perlukan adalah obat keikhlasan, pemahaman yang benar, serta amal yang sungguh-sungguh, yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi, untuk setiap sikap anti-Islam yang ada di dalam diri kita. Wallahu a’lam.

Kuala Lumpur,
3 Muharram 1431/ 20 Desember 2009

http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/alwi-alatas-mahasiswa-phd-universitas-salahnya-yahudi.htm

Ujian dapat menjadi awal kebebasan

Beberapa bulan lalu, saya menerima pesan di inbox Facebook tentang rencana beberapa teman dari sebuah yayasan Islam untuk membuat kegiatan keislaman di penjara (lembaga pemasyarakatan/ lapas) anak pria Tanggerang. Di antara kegiatannya adalah mengumpulkan buku-buku Islam untuk dibagikan kepada anak-anak di lapas yang sebagian besarnya adalah Muslim. Kegiatan Islam yang rutin ini menjadi sangat mendesak untuk dilakukan karena ada yayasan Kristen yang berkunjung ke lapas secara intensif. Mereka memberikan kursus bahasa Inggris serta beberapa kegiatan lainnya kepada anak-anak lapas dan membagi-bagikan makanan setelah kegiatan yang mereka adakan.

Sayangnya, kegiatan dari yayasan Islam ini belum mampu untuk mengimbangi kegiatan lembaga Kristen yang lebih sering berkunjung ke lapas anak pria tersebut. Sebabnya mudah ditebak: keterbatasan dana dan SDM. Sebenarnya bukan tidak ada sama sekali lembaga-lembaga Islam yang berkunjung ke lapas tersebut. Tapi masalahnya mereka tidak berkunjung secara rutin. Biasanya hanya setahun sekali, untuk dipublikasikan di surat kabar, dan setelah itu tak ada kegiatan lagi, menunggu hingga tahun berikutnya. Selain itu ada juga para artis dan ustadz terkenal yang datang berkunjung, tetapi semuanya hanya dilakukan, meminjam istilah kawan dari yayasan Islam tadi, secara ‘tabrak lari’ dan tidak konsisten. Sehingga seorang petugas lapas yang biasa dipanggil pak haji berkata, “Kami nggak butuh artis Mbak, yang penting istiqamah.”

Saya sendiri tertarik untuk memberikan buku buat kegiatan di lapas itu, tetapi akhirnya tertunda karena tidak ada yang mengurusnya di Jakarta, sementara saya sendiri di Malaysia. Entah bagaimana jalannya, rupanya ada buku saya yang berhasil diperoleh teman-teman yayasan dan akhirnya sampai ke tangan dua orang anak penghuni lapas, Ibnu dan Nasrul. Buku itu, Ketika Allah Menguji Kita (versi Indonesia dari buku Bila Allah Menduga Kita yang terbit di Malaysia), rupanya sangat berkesan buat kedua anak lapas ini. Salah satu dari kedua anak itu mendadak jadi hobi baca setelah membaca buku tersebut. Kedua anak ini sering bertanya kepada teman-teman yayasan saat berkunjung ke lapas, “Kapan penulis buku ini datang?” (saya memang menyanggupi untuk datang kalau sedang berada di Jakarta). “Insya Allah nanti akan dikabari kalau sudah ada kepastian,” begitu jawaban yang diberikan kepada keduanya.

Salah seorang anak, Ibnu, sering termenung setiap kali ingat akan dosa-dosanya (saya sengaja tidak menyebutkan kesalahan yang mereka perbuat sehingga masuk penjara). “Apa dosa saya diampuni?” ia kadang berkata penuh penyesalan. Kepada Ibnu, saya titipkan pesan agar tidak berputus asa dan kehilangan harapan. “Kalau nanti ia bertanya lagi,” pesan saya pada kawan di yayasan itu, “berikan jawaban, ‘Ampunan Allah jauh lebih besar dari dosa-dosa kita. Jangan pernah merasa putus asa dari Kasih Sayang-Nya.’ Mudah-mudahan dia tidak terus merasa gelisah.”

Setelah Lebaran Iedul Fitri yang baru lalu, sekitar akhir Agustus 2012, akhirnya saya bisa berkunjung ke lapas anak itu, karena kebetulan sedang berada di Jakarta. Ibnu dan Nasrul langsung menghampiri begitu ada kesempatan. Mereka kelihatan senang sekali. Nasrul menceritakan tentang kesannya terhadap buku Ketika Allah Menguji Kita. Saya agak takjub karena sepertinya ia ingat sebagian besar isi buku itu. “Sebelumnya saya tak pernah membaca buku,” kata Nasrul. “Tapi ketika saya mulai membaca buku itu, saya tak bisa berhenti sampai selesai membacanya.” Alhamdulillah, saya bersyukur dalam hati.

Anak-anak lapas yang berusia antara 13-19 tahun itu kemudian mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan di mushala lapas. Ada sekumpulan anak lapas yang menyenandungkan qasidah yang indah, setelah itu mereka mendengarkan nasihat dan ceramah. Di akhir acara, kami membagikan buku-buku Islam yang tidak seberapa jumlahnya kepada mereka dan meminta mereka untuk saling berbagi dalam membacanya. Saat diminta untuk mengambil buku di bagian depan mushala, mereka berebut mengambil buku-buku itu seperti anak-anak yang sedang lapar berebut makanan. Tapi ini bukan makanan, ini buku. Mereka juga bukan anak sekolahan, mereka penghuni penjara! Kalau saja kami bisa memberi lebih banyak lagi kepada mereka.

Saat pulang ke rumah, saya berpikir, sebenarnya anak-anak ini mungkin membuka pikiran saya lebih banyak daripada buku saya membuka pikiran mereka. Untuk pertama kalinya saya melihat sendiri, bahwa di tepian ibu kota Jakarta, ada penjara yang berisi begitu banyak anak remaja. Mereka masuk ke tempat itu karena berbagai kejahatan: Narkoba, perzinahan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sebagian besar mereka Muslim dan mereka memiliki nama-nama Muslim yang bagus. Kebanyakan mereka jatuh dalam perilaku itu tampaknya disebabkan minimnya pendidikan yang baik di rumah-rumah mereka. Sebagiannya merupakan korban broken home.

Bagaimanapun, mereka memberi respons yang sangat bagus terhadap dakwah dan kegiatan Islam, walaupun kegiatan yang diberikan oleh yayasan Islam masih relatif minim, sementara ada tantangan misi dari yayasan non-Muslim. Semoga respons yang baik itu menjadi langkah awal yang dapat ‘membebaskan’ mereka, walaupun fisik mereka masih terpenjara di dalam lapas.

 

Alwi Alatas

Kuala Lumpur,

1 Muharram 1434/ 15 November 2012

Resensi Whatever Your Problem Smile


Judul : Whatever Your Problem, Smile :
“Memperoleh Kebahagiaan Hidup Melalui Cerdas Psikospiritual”
Penulis : Alwi Alatas
Penerbit : PT. Magnify Solution
Terbit : I, Februari 2011
Tebal : 252 halaman
Harga : Rp. 55. 000

Tetap Tersenyum Saat Menghadapi Masalah

“Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi karena disana ada kesempatan mengembangkan diri. Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri. Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif. Berusahalah mensyukuri kesulitan yang engkau hadapi sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu.”

Kemudahan dan kesulitan dua kata yang sering mengiringi derap langkah hidup kita. Seperti roda, hidup kadang di atas dan di bawah. Pandangan manusia tentang kesulitan dan tantangan selalu beraneka ragam. Ada yang memandangnya sebagai ujian. Tidak sedikit yang melihatnya sebagai musibah lalu mencoba lari dari kenyataan. Bahkan, ada yang sampai pada taraf putus asa kemudian mengambil jalan pintas, bunuh diri.

Di tiap kesulitan, kesukaran, musibah, problem, atau istilah lain yang senada, pasti ada jalan keluarnya. Sayangnya, ketidakmampuan untuk menggali hikmah dari setiap tahapan tantangan kerap membuat kita resah dan galau sehingga persoalan makin lama makin menjadi-jadi.

Buku ini memaparkan kiat-kiat bagaimana menghadapi itu semua. Yang perlu digarisbawahi, jangan sampai kita melepaskan diri dari aspek spiritual. Karenanya, penulis menggunakan pendekatan psikospiritual, yaitu pendekatan yang mengharmonikan perkembangan kejiwaan dengan nilai-nilai agama (Islam).

Penulis bernama Alwi Alatas yang kini tengah menempuh program doktoral di salah satu Universitas di Malaysia, mengemas pembahasan karyanya ini dengan cukup apik. Tiap bab dihubungkan dengan kisah-kisah inspiratif yang bisa membuat kita terdorong untuk berani menerima dan menghadapi tantangan sesulit apa pun itu. Contohnya, di masa Umar bin Khatthab, pernah terjadi pertempuran antara pihak tentara Islam dengan pasukan Romawi (Byzantium). Pertempuran tersebut berjalan berat sebelah. Pasalnya, pihak Romawi didukung dengan jumlah pasukan yang begitu banyak melebihi kekuatan pasukan kaum muslimin.

Dalam keadaan genting seperti itu, panglima perang Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menulis sepucuk surat kepada Umar yang isinya mengabarkan kekhawatirannya atas kekuatan musuh yang super besar itu. Umar membalas surat tersebut dengan menulis, “Bagaiman pun kesulitan yang dihadapi seorang hamba yang beriman, Allah akan melepaskannya juga dari kesulitan itu setelahnya, dan satu kesulitan (`usrin) tidak akan mengalahkan dua kemudahan (yusran).” (hal. 103).

Dalam buku ini disebutkan beberapa manfaat yang akan kita peroleh dari persoalan hidup. Pertama, problem dan kesulitan dapat menjadikan manusia lebih kuat dan tangguh. Kesulitan bukan momok menakutkan tapi merupakan ‘pelatih’ yang melatih mental dan fisik kita agar tahan uji. Kegagalan dalam menghadapi tantangan hal yang lumrah saja. Di sinilah pentingnya sikap pantang menyerah untuk terus mencoba bangkit.

Kesuksesan orang-orang di masa dulu dan sekarang tidaklah berarti bahwa mereka tidak pernah mengalami kegagalan. Mereka pasti pernah jatuh, gagal, dan terlilit kesulitan. Tapi mereka tidak menyerah yang pada akhirnya membuat mereka jauh lebih kuat dan berhasil. Micheal Jordan, seorang pebasket handal, pernah mengatakan, “I`ve failed over and over again in my life. That is why I succeed.” (hal. 85-88).

Kedua, problem membantu kita belajar. Imam Al-Ghazali pernah mengatakan dalam Ihya` `Ulumuddin, “Jika seseorang memiliki pikiran yang mendalam, maka keadaan apapun akan menjadi pelajaran baginya.”

Kita tentu juga mengenal Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu pijar. Kita hanya tahu kesuksesan yang diraih ilmuwan ini tanpa mencoba mengetahui bagaimana liku-liku proses menemukan karya yang kita nikmati hingga detik ini. Berkali-kali ia mengalami kegagalan dalam eksperimennya. Tidak kurang dua ribu kali percobaan telah ia lakukan bersama para asistennya dan selalu kandas. Sampai suatu kali, asistennya merasa jengah dan frustasi. “Semua usaha kita sia-sia belaka. Kita tidak mempelajari apa-apa!”

Kata Thomas, “Oh, kita sudah melangkah sejauh ini dan kita sudah belajar banyak. Kita mengetahui bahwa setidaknya ada dua ribu elemen yang tidak dapat kita gunakan untuk membuat lampu yang bagus.” (hal. 88-90).

Ketiga, problem membuat kita lebih sungguh-sungguh. Seorang yang hidup dengan tantangan lalu berpikir positif dalam menghadapinya akan bersungguh-sungguh dan bekerja lebih giat mengatasi semua itu (hal. 90-91).

Keempat, kesusahan dapat mengurangi dosa dan memberi pahala bagi orang-orang yang beriman. Ada banyak hadits yang bisa menjadi hujjah atas sisi positif dari sebuah kesulitan. Di antaranya, “Tiadalah seorang muslim menderita kelelahan, sakit, kegalauan, kesedihan, siksaan, gelisah hingga duri yang mengenainya melainkan Allah menghapus dengannya dosa-dosanya.” (hal. 92-94).

Selain semua itu, masih banyak sisi manfaat kesulitan lainnya yang dipaparkan oleh penulis. Buku ini mengajak kita untuk mengenali problem dan kesulitan hidup serta cara mengatasinya. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dilengkapi dengan banyak kisah, tabel, dan bagan atau diagram yang akan memudahkan kita untuk memahami keseluruhan isinya.

Meski telah banyak buku serupa tentang pengembangan diri atau motivasi namun buku yang satu ini banyak memuat kekhasan Islam dalam mengangkat moral seseorang. Jiwa manusia yang suci lalu terpengaruh oleh gaya hidup di sekitarnya terkadang membuat kotor dan berdebu. Cara mengusap dan membersihkannya kembali seperti sedia kala bisa dilakukan ketika kita mau mengenali kesejatian hidup yang sesungguhnya : Untuk apa kita hidup dan mau apa kita hidup di dunia ini ?

Saat rampung membaca buku ini, diharapkan pandangan kita terhadap problem dan kesulitan hidup berubah sepenuhnya. Demikian pula, dada akan menjadi lapang, beban terasa ringan, dan bibir lebih mudah tersenyum saat menghadapi masalah.

(Resensi buku ini telah dimuat di Majalah Cahaya Nabawiy, rubrik Resensi Buku, Edisi 99 Dzul Hijjah 1432 H / November 2011).

Ketika Allah Menguji Kita – Abu Mufidah

Selasa, 01 Maret 2011

 

KETIKA ALLAH MENGUJI KITA

 

Judul buku : KETIKA ALLAH MENGUJI KITA

Penulis : Alwi Alatas

Penerbit : TARBAWI PRESS

Cetakan : Mei 2010

Jumlah Hal : 259

Presensi : Abu Mufidah

Kesulitan dan ujian hidup tak pernah lepas dalam kehidupan ini. Ia menyatu dan lengket kemanapun kaki kita melangkah. Selalu ada yang lepas dan pergi dari kita. Namun tentu rasa syukur jangan kendur dan rasa sabar jangan hilang dalam diri kita. Karena nikmat yang kita dapat tentu lebih banyak daripada masalah yang ada. Maka ingatlah selalu pemberia Allah kepada kita. Ia berikan kepada kita dari segala arah. Dari atas kepala hinga kaki kita nikmat itu selalu kita rasa.

Kesehatan, keselamatan, ketersediaan makanan meski sedikit, pakaian, udara,air, ini adalah bagian dari dunia yang telah menjadi milik kita. Tapi mugkin kita tidak menyadari akan hal ini, bahkan kita angap remeh. Kita tidak menyadari nikmat ini hinga luput dari rasa syukur kita. Selain itu kita masih memiliki bibir, lidah, dua tangan, dan dua kaki yang tetap berpungsi normal dan selalu memudahkan kita untuk tetap beraktifitas.
Tidakkah kita ingat bahwa sebagian saudara kita ada yang tidak sanggup berdiri tegak dikarenakan kakinya hanya satu. Ingatlah teman kita yang tidak bisa melihat karena buta sejak lahir, padahal dia ingin sekali melihat indahnya dunia. Ada juga saudara kita yang tidak sanggup berbicara karena bisu, padahal kita masih bisa berbicara, bahkan kita sering mengumpat menjelekan-jelakan orang hingga orang lain sakit hatinya dikarenakan ulah bibir kita yang sok bisa bicara. Bisakah kita membayangkan diri kita berjalan tanpa kedua kaki. Apakah kita anggap enteng kita bisa tidur pulas, sementara orang lain sama sekali tidak bisa menikmati tidur karena ada penyakit. Apakah kita lupa bahwa kita hari ini masih bisa menikmati lezatnya makanan dan segarnya air minum, sementara teman kita sekarang masih ada yang terbaring lemas dirumah sakit, ia tidak bisa menikmati kelezatan makanan dan kesegaran air minum.
Terlalu banyak kita telah dianugerahi kenikmatan yang besar ini, namun syukur kita terasa hambar dan kadang tidak Nampak dalam diri kita orang yang bersyukur. Ataukah kita sudah di cap menjadi orang kufur nikmat. Kita mestinya harus koreksi diri kita masing-masing saat ini juga.
Setiap manusia tentu pernah menghadapi ujian dan cobaan serta masalah-masalah dalam hidupnya. Persoalan hidup merupakan hal yang lumrah. Namun terkadang manusia tidak sabar dalam menghadapinya. Saat mendapat masalah mungkin dia akan banyak mengeluh dan marah. Atau bahkan mungkin mempertanyakan takdir yang telah menimpanya. Padahal ujian dan masalah merupakan keniscayaan dalam hidup. Sebetulnya ia pungsi yang bisa memperkuat daya tahan serta mengangkat kedudukan kita. Sekiranya seseorang beriman dan bersabar, maka kesusahan dan kepedihan yang dirasakannya saat menerima musibah akan mendapat ganti yang lebih baik nantinya Insya Allah. Hal ini pulalah yang membuat Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam suatu kali tersenyum. Ketika para sahabatnya melihat Rasulullah tersenyum mereka terheran-heran dan bertanya mengapa beliau tersenyum, maka Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam menjawab, ‘’Karena heran terhadap keluh kesah seorang mukmin akibat sesuatu yang dideritanya. Jika ia mengetahui hikmah apa yang ada di dalam penderitaan tersebut, maka ia akan lebih menikmati hingga ia bertemu Allah subhanhuwata’ala. [Hr-Ibnu Abu Dunya, dari Ibnu Mas’ud]
Ada banyak sekali penjelasan semacam ini dari Rasulullah terhadap umatnya yang sedang dirundung kesusahan atau kepedihan. Ini adalah merupakan motivasi dan solusi yang indah bagi umat yang beriman untuk menyelesaikan persoalan demi persoalan yang menghantamnya. Dengan hanya meminta campurtangan Allah subahanahuwata’ala maka masalah apapun yang kita hadapi akan terselesaikan.
Buku ini lebih berbicara tentang persoalan keseharian kita dan kiat-kiat mengatasinya sejalan dengan tuntunan Islam. Hidup ini penuh dengan persoalan, dan kadang ia menghantam kita dengan keras. Namun, apa pun persoalannya, setelah Anda membaca dan memahami isi buku ini, insya Allah Anda akan memandang kehidupan ini dengan cara yang berbeda dan akan merasakan kenyamanan dan hidup penuh makna. Buku ini ditulis dengan bahasa populer dan dengan gaya tulisan yang mengalir dan komunikatif, sangat mudah untuk dipahami. Dari awal hingga akhir, halaman-halamannya dipenuhi dengan sejumlah ilustrasi dan kisah-kisah nyata yang menyentuh, contoh-contoh kasus, dan kutipan-kutipan dari al-Qur’an, Hadits, serta penjelasan orang-orang mendalam ilmunya berkenaan dengan problematika hidup manusia, dan perkataan orang-orang bijak. It’s really value to buy it; it’s a must-read book. Buku ini sangat renyah untuk dibaca, dan menjadi sebuah inspirasi dan renungan bagi kita.
Buku ini telah terbit di Malaysia (Bila Allah Menduga Kita) pada awal tahun ini dan dicetak ulang dalam waktu dua bulan saja. Ia juga berkali-kali masuk dalam best-sellers list mingguan versi dua toko buku besar di Malaysia,
Selamat Membaca
Diposkan oleh Abu Mufidah di 14:56

Jangan Hanya Melihat Bagian Bawahnya

Friday, November 12, 2010

Jangan Hanya Melihat Bagian Bawahnya

Disadur dari Buku “Ketika Allah Menguji Kita” oleh Alwi Alatas

Suatu hari seorang anak duduk bermain di lantai, sementara ibunya duduk di atas kursi sambil menyulam. Anak yang sedang bermain di lantai itu kemudian menoleh ke arah ibunya, memperhatikan apa yang tengah dibuat ibunya. Ia melihat sulaman ibunya dari bawah dan merasa heran.

Ia bertanya pada ibunya, “Apa yang sedang ibu lakukan?”

“Ibu sedang menyulam, Nak.” jawab ibunya sambil terus menusukkan jarum dan benang ke permukaan kain.

“Tapi buat apa?” anak itu masih bertanya heran. “Sulaman itu kelihatan buruk sekali. Hanya benang-benang yang tak beraturan dan tak menarik untuk dilihat.”

Ibunya tersenyum. Lalu ia memberi isyarat pada anaknya untuk berdiri. “Berdirilah, Nak!” ujarnya. “Lihat sulamannya dari atas sini.”

Anak itu berdiri dan menghampiri ibunya. Ia berjalan mendekat dan melihat sulaman karya ibunya dari atas. Ia merasa terkejut dan kagum pada keindahannya.

“Indah sekali sulaman ini, wahai Ibu. Padahal ia terlihat begitu buruk dari bawah sana.” kata anak itu.

Ibunya tersenyum sambil membelai kepala sang anak.

***

Seperti itulah kehidupan kita ini. Kita melihat perbuatan-Nya dari ‘bawah’, dari sudut pandang kita, dan sebagian darinya menjadi kelihatan sangat buruk dan tidak menyenangkan. Kita menjadi sering mengeluh dan menyalahkan-Nya. Kalau saja kita mau bersabar dan berusaha melihatnya dari tempat yang tepat, tentu kita akan memiliki sikap yang berbeda.

Pandangan mata kita hanya mampu melihat ‘bagian bawah’ dari disain yang ada pada kehidupan ini. Sementara dengan mata hati yang bersih dan pengetahuan yang lurus kita akan mampu melihat disain yang sesungguhnya di ‘bagian atas’, dari sudut pandang “Sang Pencipta Kehidupan”. Dan ketika itu kita akan melihat segala keindahannya. Ketika kita mampu melihat keindahan itu, kita tidak akan pernah mengeluh lagi. Kita akan merasa kagum dan penuh syukur pada disain kehidupan kita yang indah itu.

Posted by Satyadharma W. Mohammad at 10:22:00 AM

http://styagreennotes.blogspot.com/2010/11/jangan-hanya-melihat-bagian-bawahnya.html

Musibah sebagai Simulasi Kehidupan

Musibah sebagai Simulasi Kehidupan

Pernah mendapatkan persoalan kecil atau musibah yang ringan? Oh, tentu saja. Malah mungkin kita mengalaminya setiap hari. Dan persoalan yang kecil itu pun sering membuat kita uring-uringan dan merasa kesal seharian, bahkan setelah persoalannya sendiri sudah selesai. Tapi, pernahkah kita membayangkan bahwa persoalan-persoalan itu sebetulnya bisa menjadi sebuah simulasi yang bisa membuat kita lebih siap dalam menghadapi kesulitan yang lebih besar?

Pembaca tentu tahu apa yang kami maksud dengan simulasi. Simulasi adalah sesuatu yang perilakunya sama dengan hal yang riil atau nyata. Simulasi merupakan sesuatu yang ’tidak nyata,’ tetapi dirancang mirip dengan kenyataan. Karenanya simulasi bisa membantu kita untuk lebih siap dalam menghadapi kenyataan yang sebenarnya.

Musibah sebagai sebuah simulasi? Apa maksudnya? Berikut ini ada sebuah contoh yang mudah-mudahan bermanfaat.

Pernah suatu kali saya kehilangan dompet. Bukan hilang di jalan, tapi di rumah. Pagi-pagi saat siap berangkat keluar rumah, saya mencari dompet di tempat saya biasa meletakkannya. Dompet itu tidak ada di sana!

Saya mencari ke tempat-tempat lainnya, tapi tidak juga menemukannya. Sebetulnya, saya tidak tahu harus mencari kemana lagi, karena saya tidak pernah meletakkan dompet itu di tempat lain.

Apakah saya terlupa dan telah meletakkannya di tempat lain semalam. Saya coba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi malam sebelumnya. Saya pulang larut malam dalam keadaan kepala pening karena memang sedang sakit flu. Karena sudah sangat letih, saya tidak ingat apakah pada saat itu saya mengeluarkan dompet dan meletakkannya di tempat yang biasa. Saya ingat betul semalam pergi membawa dompet, tapi saya tidak ingat tentang dompet itu pada saat pulang.

Atau jangan-jangan dompet itu memang sudah tidak ada di saku pada saat pulang? Jangan-jangan ia terjatuh di mobil, karena dompet itu memang rasanya tidak betul-betul masuk ke dalam saku? Atau jangan-jangan dompet itu jatuh di jalan pada saat saya berada di luar kendaraan?

Kepala saya mulai terasa pening. Saya mulai khawatir dompet itu benar-benar hilang. Dengan perasaan gelisah saya kembali mencari-cari ke berbagai tempat, tapi tak juga menemukan dompet itu. Gawat, jadi dompet itu benar-benar hilang? Apa yang mesti saya lakukan sekarang?

Saya mulai membayangkan kerumitan yang akan terjadi sekiranya dompet itu memang hilang. Uang di dalamnya tidak banyak, tapi semua kartu saya ada di dalam sana. Kartu mahasiswa (student card), tiga kartu ATM, satu kartu SIM (license), roadtax motor (semacam STNK di Indonesia), dan ada beberapa kartu penting lainnya.

Kepala saya jadi semakin pening. Kenapa saya meletakkan semua kartu-kartu itu di dalam dompet, padahal saya tidak menggunakannya setiap hari, saya mulai menyalahkan diri sendiri. Mengapa tidak tinggalkan saja sebagian kartu itu di rumah, jadi kalau dompetmu hilang, kamu tidak perlu kehilangan semuanya? (Ups, saya jadi khilaf karena telah berandai-andai)

Ketika itu saya masih belum sepenuhnya yakin kalau dompet itu memang hilang. Tapi kejadian itu membuat saya berpikir tentang langkah-langkah antisipatif di masa mendatang. Saya mendapat sebuah pelajaran berharga pada saat itu: entah apakah dompetmu benar-benar hilang atau tidak, lain kali jangan pernah meletakkan semua kartu yang penting di dalam dompet. Bawa yang diperlukan saja!

Saya masih mencari-cari dompet itu. Dan untuk ke sekian kalinya mata saya tertuju pada tas yang biasa saya bawa. Mungkinkah dompet itu ada di sana? Sejak tadi saya memang belum memeriksanya, karena saya memang tidak pernah meletakkan dompet di dalam tas, terlebih lagi saat berada di rumah. Tapi apa salahnya mencoba.

Tas itu pun saya buka. Ada beberapa benda di dalamnya. Mata saya menatap sebuah benda berwarna hitam. Saya tidak begitu yakin, tapi tampaknya itu …. Dan saya pun mengambilnya. Ternyata itu memang dompet yang saya cari-cari sejak tadi. Perasaan pun menjadi lega seketika itu juga. Alhamdulillah ya Rabb.

Siapa yang meletakkan dompet itu di dalam tas? Saya sama sekali tidak ingat kalau semalam telah memasukkan dompet itu ke dalam tas. Atau mungkin istri saya yang memasukkannya ke sana sebelum ia berangkat pagi ini? Entahlah. Tapi itu semua tidak terlalu penting lagi. Yang penting dompet itu sudah kembali. Dan bersama dengan itu, hilang juga segala kerumitan dan kekhawatiran yang sebelumnya membayang-bayangi pikiran.

Tanpa menunggu lebih lama, saya langsung mengeluarkan semua kartu yang tidak perlu saya bawa dan saya letakkan di tempat khusus di rumah. Kini saya tidak perlu terlalu khawatir sekiranya dompet itu nantinya benar-benar hilang (tentu saja saya sama sekali tidak mengharapkannya, dan saya berdoa agar dompet itu jangan sampai hilang).

Bagaimanapun, peristiwa itu telah menjadi sebuah simulasi bagi saya. Dompet itu seolah-olah hilang, dan menimbulkan rasa khawatir. Tapi ternyata ia tidak benar-benar hilang. Kejadian itu justru telah membantu saya agar lebih siap dalam menghadapi situasi semacam itu di masa mendatang.

Sebelumnya saya sempat merasa khawatir karena kehilangan dompet. Tapi saya percaya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadith Nabi saw, bahwa rasa khawatir dan cemas itu akan diberi ganjaran oleh Allah. Kemudian ternyata dompet itu tidak hilang, dan saya justru mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian itu, yaitu supaya bisa meminimalisir kerugian pada waktu-waktu berikutnya.

Kehidupan ini ternyata menyediakan banyak simulasi dan latihan yang dapat membuat kita lebih sigap dan waspada dalam menghadapi berbagai persoalan. Dan Allah memberikan pahala kepada kita untuk setiap ketidaknyamanan yang kita rasakan yang telah ditimbulkan oleh persoalan atau ‘simulasi’ tadi. Sudah dilatih dan diberi kesiapan, diberi ganjaran pula. Ah, enak betul jadi orang beriman.

Karena itu jika kita mengalami musibah atau persoalan, jangan marah-marah atau berputus-asa. Belajarlah sesuatu dari peristiwa itu. Karena dalam berbagai persoalan itu memang terdapat banyak pelajaran yang indah dan baik buat kita, insya Allah.

Alwi Alatas,


Kuala Lumpur, 2010

Bakso Khalifatullah

Bakso Khalifatullah
Emha Ainun Nadjib

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.

30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!

Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika datang saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”

Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”

Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.

Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.

http://kenduricinta.com/pojok.php?id=94