Kehilangan Satu-satunya Karir

Kehilangan Satu-satunya Karir

Bagi sebagian orang, hidup terasa begitu mudah dan nyaman saat ia tak perlu memilih. Keadaanlah yang menyodorkan pilihan bagi dirinya, dan ia tinggal menjalaninya saja. Ini juga yang mungkin sempat dirasakan oleh Dennis Snider.

Snider tinggal di kawasan pedesaan Alabama. Setelah selesai dari sekolah menengah dan berhenti dari pendidikan di kampus (college) satu tahun kemudian, ia menyadari bahwa perjalanan hidupnya setelah itu akan kurang lebih sama seperti 90% masyarakat di tempat tinggalnya: yaitu bekerja sebagai buruh di sepanjang hidupnya.

Menggeluti profesi yang dijalankan mayoritas orang di lingkungannya tentu tidak menjadi masalah bagi Snider. Ia sama sekali tidak perlu keluar dari zona aman yang dimilikinya. Jenjang pendidikan yang tidak tinggi toh memang memberi pilihan yang sangat terbatas baginya dalam menjalani karir. Ia tidak perlu kebingungan dalam memilih akan menjadi apa, seperti yang dialami oleh sebagian orang lainnya. Cukup jalani saja apa yang ditawarkan oleh kehidupan, mudah sekali bukan?

Tapi apa yang semula kelihatan mudah tiba-tiba berbalik menjadi sesuatu yang sangat rumit. Snider didapati menderita degenerative joint disease (DJD). Tulang rawan di persendian lututnya hancur, dan karenanya ia terpaksa berhenti dari pekerjaannya.

Umur Snider baru 21 tahun, ia memiliki keluarga untuk ditanggung, ia tak memiliki pendidikan tinggi, dan tidak memiliki keahlian khusus, dan kini ia terpaksa berhenti dari satu-satunya pekerjaan yang bisa menampungnya disebabkan oleh penyakitnya itu. Semuanya tiba-tiba menjadi muram. Pilihan yang sebelumnya begitu mudah kini hilang begitu saja. Snider seolah memasuki jalan yang buntu dalam hidupnya.

Ia menjalani enam tahun berikutnya dengan mengirim surat lamaran ke berbagai perusahaan, dan selalu saja ditolak. Ia sama sekali tidak memiliki keterampilan untuk bekerja di kantor. Ia benar-benar berada dalam masalah serius. Situasi itu menyebabkan dirinya merasa tidak akan pernah dapat meraih apa pun dalam hidupnya.Untunglah ibu dan istrinya selalu memberikan dukungan moral baginya.

Satu-satunya jalan keluar bagi Snider adalah melanjutkan pendidikan, supaya ia bisa memiliki keterampilan tertentu dan dapat bekerja dengan keterampilan barunya itu. Tapi ini juga tidak mudah. Ia menghadapi masalah jarak dan transportasi. Kampus terdekat yang bisa ia capai memerlukan perjalanan 2 jam bolak-balik. Ini kurang memungkinkan mengingat keadaan dirinya itu.

Akhirnya, sesuai saran istrinya, ia memutuskan untuk mengambil kuliah online pada sebuah lembaga pendidikan yang terakreditasi. Di rumahnya ada sebuah komputer yang hampir-hampir tak bisa berfungsi. Bagaimanapun, Snider tahu bahwa ia bisa mencapai gelar sarjana dengan keadaan yang serba terbatas itu. Maka ia pun memilih jurusan desain grafis dan multimedia.

Ternyata ia menyukai pola belajar secara online. Belajar secara online tidak hanya mengatasi persoalan jarak dan transportasi, tetapi juga memberi kenyamanan belajar bagi Snider. Ia bisa fokus dengan pelajarannya tanpa perlu berpikir tentang apa yang kira-kira dipikirkan oleh teman-teman sekelasnya tentang dirinya. Ia juga merasa puas dengan kesempatannya berkomunikasi, dan melakukan tanya jawab, dengan profesor atau staf pengajar di kampus tersebut. Ini semua membuatnya dapat menjalani proses belajar dengan sangat baik. Ia bahkan diterima sebagai bagian dari komunitas kehormatan kampus tersebut.

Kini Snider tidak lagi merasa khawatir dengan masa depannya. Dengan keahlian barunya ia bisa diterima di banyak perusahaan. Ia bahkan tidak perlu menunggu sampai tibanya waktu kelulusan. Ia bahkan sudah mendapat beberapa proyek/ pekerjaan ketika kuliahnya belum selesai.

Ketika satu-satunya pintu karir yang ada tertutup bagi Dennis Snider, pintu yang lainnya ternyata telah menunggunya. Ia hanya belum tahu saja, dan ia hanya perlu menyiapkan seperangkat syarat untuk meraih karir dan kesuksesan baru … yang lebih baik dari sebelumnya.

Jadi, kalau pintu karir kita tiba-tiba saja tertutup, atau tiba-tiba saja kita jatuh dalam hidup ini, jangan berputus asa.Segera bangkit dan cari jalan keluarnya. Karena sebuah pilihan baru yang lebih baik insya Allah sedang menunggu kita di depan sana.

Alwi Alatas

Kuala Lumpur,

16 July, 2010

Diceritakan kembali dari kisah yang terdapat pada http://www.justcolleges.com/elearn/elearning_case_study_snider.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s