Masih Ada Cinta dan Kebahagiaan di Gaza

Masih Ada Cinta dan Kebahagiaan di Gaza

Alwi Alatas

Perhatikanlah sepasang manusia yang tengah tersenyum bahagia pada gambar di samping. Mereka belum lama melangsungkan pernikahan mereka di Gaza. Ya, keduanya merupakan penduduk Gaza, Palestina. Yang pria bernama Mahmoud (21 th) dan yang perempuan bernama Rana (26 th).

Mahmoud dan Rana, dengan dukungan keluarga mereka, telah memimpikan dan merencanakan pernikahan. Pernikahan adalah sebuah momen dan ikatan yang sangat istimewa. Tapi pernikahan pasangan ini mungkin jauh lebih istimewa dibandingkan apa yang biasa kita bayangkan tentang sebuah perkawinan. Karena beberapa bulan sebelum pernikahan mereka, Mahmoud telah menjadi salah satu korban serangan Israel ke Gaza.

Sebagaimana telah diketahui bersama, Israel melakukan invasi ke Gaza selama kurang lebih tiga minggu, dimulai pada tanggal 27 Desember 2008. Pada hari kesembilan serangan itu, Mahmoud tengah berkumpul bersama teman-temannya ketika sebuah serangan udara tiba-tiba saja mengenai rumah tempat mereka berkumpul. Semuanya selamat, tapi dengan luka-luka serius. Mahmoud sendiri kehilangan penglihatan dan kaki kanannya.

Calon pengantin pria itu telah menjadi buta dan kehilangan salah satu kakinya. Sejak saat itu, ia tak bisa lagi melihat apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ia juga tidak bisa melihat Rana, calon pasangannya sendiri. ”Kadang saya tahu keberadaannya, saat ia tertawa, atau saat ia berbincang dengan ibu saya,” ujar Mahmoud tentang Rana selepas ia tak dapat melihat lagi. Ia terpaksa membiasakan diri dengan keadaannya selepas perang, termasuk dalam merasakan kehadiran Rana.

Bagi Rana sendiri, tidak ada yang berubah pada diri Mahmoud. ”Ia telah kehilangan penglihatan dan kakinya, tapi tak satu bom pun yang dapat mengambil hatinya, ia tak akan pernah kehilangan rasa cintanya,” ujar Rana mantap. Rana tak dapat mengerti mengapa sebagian orang melihat apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang berat. ”Tidak ada pernikahan yang mudah,” terangnya, ”Ini merupakan komitmen seumur hidup, baik atau buruk.”

Keluarga, sanak saudara, dan teman-teman menghadiri pernikahan pasangan ini. Mereka menyampaikan rasa kagum dan memberikan banyak dukungan bagi terlaksananya pernikahan Mahmoud dan Rana. Pernikahan tersebut dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan lembaga al-Taysir yang memang biasa memberikan bantuan semacam itu bagi para korban perang. Orang tua Mahmoud sendiri merenovasi kamar tidur mereka dan memberikannya kepada pengantin baru tersebut.

Pernikahan itu merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi orang tua Mahmoud. Ibu Mahmoud, Umm Rawhi, berkata, ”Kami memang orang-orang sederhana yang tidak memiliki 2 pennies untuk digunakan bersama, tapi kami disini saling memiliki.”

Ayahnya, Abu Rawhi, sebagaimana orang-orang lainnya, juga merasa terkejut dengan keputusan Mahmoud untuk menikah. Tapi ia mendukung pernikahan anaknya itu. ”Saya akan melakukan apa pun untuk melihatnya bahagia kembali, terutama setelah semua kesulitan yang ia lalui …. saya bersyukur pada Tuhan setiap hari karena telah mengirim Rana. Ia (Rana) tak hanya membuat anak saya bahagia, tapi ia membuat kami semua tersenyum ketika kami pikir kami tak akan pernah bisa tersenyum lagi.”

Kini, perhatikan lagi senyuman Mahmoud dan Rana pada gambar di atas. Dan dengarlah pesan yang tersirat melalui senyuman itu: Bom boleh merengut anggota tubuhmu, tapi tidak kebahagiaanmu!

Kuala Lumpur,

20 July 2010

Source: http://electronicintifada.net/v2/article10714.shtml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s