Bersama Penulis Ketika Allah Menguji Kita di Riau Pos

Penulis Buku Ketika Allah Menguji Kita, Alwi Alatas
Menikmati Masalah dari Sisi Positif
7 September 2010

Laporan IDRIS AHMAD, Pekanbaru tuanidrisahmad@yahoo.com

Setiap manusia pasti memiliki masalah dalam hidupnya, karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Masing-masing orang berbeda dalam merespos masalah yang dihadapi.

Pada Selasa-Rabu (25-26 Agustus lalu) penulis buku best seller Alwi Alatas atas undangan Kelompok Kajian Tafaqquh dan Rumah Sakit Ibu dan Anak Zainab berada di Pekanbaru untuk membedah buku Ketika Allah Menguji Kita. Buku ini dibedah bersama pakar tafsir Dr Musthafa Umar.

Sebenarnya buku ini telah lebih dulu terbit di Malaysia, negara di mana ia sedang menempuh program doktoral saat ini, dengan judul Bila Allah Menduga Kita. Di negeri jiran itu, dalam delapan bulan, buku ini sudah empat kali cetak. Beruntung Riau Pos mendapat kesempatan menemani pria yang telah menulis 19 buku di rentang sepuluh tahun terakhir ini. Berikut hasil wawancara Riau Pos yang ditulis dengan gaya bertutur.

Kita seperti Anak Kecil
Intinya buku ini mengajak kita melihat ujian hidup dengan cara berbeda, biasanya kita dapat ujian suka mengeluh, protes sedih, marah seolah-olah kita tak bisa menerima, seolah-seolah kita merasa Allah itu tidak adil. Kita seperti anak kecil. Contohnya ada anak kecil sedang flu terus ada tukang es lewat. Anak ini minta es ke ibunya, tapi ibunya tak membolehkan. ‘’Kamu lagi sakit, jangan minum es,’’. Sang anak marah-marah, guling-gulingan, nangis. Lalu bilang ‘’ibu jahat’’.

Saat si anak sakit, dibawa ke Puskesmas, disuntik sama dokter. Ia kesakitan, nangis. Si anak menuding lagi ‘’dokter jahat.’’ Anak yang kalau di rumah kita jaga jangan sampai kena benda tajam, ini malah dibawa ke dokter, minta dokter menusuk anak dengan jarum, disuntik. Mengapa anak tadi bilang ‘’dokter jahat’’ ‘’ibu jahat’’?

Karena yang ia tahu permintaannya tidak dikabulkan, ia merasa sakit, merasa tidak nyaman dengan yang terjadi pada dia. Karena dia tahunya itu saja, maka ia protes. Mengapa ibunya melarang minum es, mengapa dokter menyuntik sang anak, padahal hal itu menyakitkan? Karena orangtuanya tahu jika permintaanya minum dikabulkan akan berakibat buruk, dokter tahu bahwa suntikan bisa membawa kebaikan buat si anak.

Manusia banyak seperti anak kecil. Dapat musibah, marah, tidak terima. Misalnya kita sudah rajin ibadah, gaji tidak naik-naik. Berdoa tiap malam, doa tak dikabulkan juga. Kita protes pada Allah. Tak menerima. Padahal yang lebih tahu mana yang baik siapa? Allah. Allah mau mengabulkan doa kita, yang tahu kapan waktunya yang tepat siapa? Allah. Mengapa kita harus protes!

Mengapa orang mengeluh ketika dapat ujian hidup? Pertama, karena kurang ilmu sehingga memiliki cara pandang yang salah dalam menghadapi ujian tersebut. Cara pandang yang salah pada gilirannya berdampak buruk pada dirinya. Itulah sebabnya mengapa saya melalui buku ini mencoba memahamkan orang dengan cara menghibur bahwa kita tak perlu mengeluh atau sedih berlebihan atau kecewa karena memang hidup ini selalu ada ujian. Kita perlu melihat ujian secara positif dengan cara berberprasangka baik pada Allah.

Sering secara tak sadar kita mengeluh, protes, marah. Kita telah protes pada Allah. Seolah-olah kita mempertanyakan Allah, menyalahkan Allah. Padahal Allah menetap ujian itu dengan ilmu-Nya dengan hikmah-Nya. Tak ada yang salah di situ, hanya kita belum tahu apa hikmah di balik ujian tadi. Dengan kita yakin ada hikmah di balik itu, Insya Allah kita akan lebih tenang

Kedua, sebetulnya — kalau kita paham — ujian itu diperlukan oleh hidup. Karena hidup ini mustahil tanpa ujian, ujian itu justru bisa membantu, bisa menguatkan diri kita. Adanya tantangan justru membuat kita lebih kuat. Satu contoh di dunia hewan, ikan yang hidup di air yang deras ia akan tumbuh lebih besar ketimbang di air yang tenang. Ada tantangan, ada arus air yang kuat sehingga membuat dia terus bergerak. Begitu juga kita, ujian dan cobaan membuat kita memiliki daya tahan yang lebih besar. Itulah di antara kebaikan yang terdapat dalam ujian.

Hal yang lain lagi, ketika mendapat ujian, besar kecilnya dipengaruhi persepsi kita tentang ujian tadi. Ada orang dapat ujian yang kecil, tapi dia mempersepsi ujian itu sebagai hal yang besar. Dia melihat ujian itu sebagai hal yang besar, maka dia pun merasa sangat terbebani. Ada orang yang mendapat ujian yang berat tapi ia merasa ujian itu sesuatu yang kecil sehingga ujian tadi tidak terlalu menyusahkan dia. Latihan kesabaran, membiasakan diri bersabar akan membantu kita melihat ujian-ujian tadi sebagai sesuatu yang biasa saja dan kita tidak melihatnya sebagai sesuatu yang terlalu berat.

Ada kata-kata terkenal menyebutkan kalau kita mendapat masalah sebesar apapun masalahnya jangan katakan ‘’Wahai Allah, aku punya masalah yang besar’’ tapi katakan ‘’wahai masalah, aku punya Allah yang Maha Besar’’.

Ketika kita yakin bahwa kita bersandar pada Allah, kita bersabar sesuai dengan tuntutan Allah. Yakin Allah akan menolong. Berdoa pada Allah, maka Insya Allah kita akan selalu menemukan jalan keluar setiap masalah. Kita juga mesti ingat, karena persoalan itu bagian dari hidup, kita selalu berjumpa dengan masalah. Lagi-lagi masalahnya bukan persoalan itu sendiri tapi bagaimana kita menyikapinya.

Untuk mendapat jalan keluar caranya kembali pada Islam dan bersandar pada pertolongan Allah. Kalau kita mendekatkan diri pada Allah, kita kuatkan keimananan, kita sampai derajat taqwa, Allah jamin ‘’siapa yang bertaqwa maka Dia akan memberi baginya jalan keluar.’’ Usaha untuk menemukan jalan keluar jelas diperintahkan. Tapi dibukanya jalan keluar adalah karena bantuan Allah. Kita berusaha, nanti Allah akan memberi jalan keluar. Seiring usaha, seiring dengan pertolongan Allah, pada waktu yang Allah paling tahu kapan waktu paling baik, kita akan menemukan jalan keluar terhadap persoalan yang kita hadapi.

Ketika kita ditimpa masalah, maka harus bersabar dan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mengucapkan itu dengan pemahaman bahwa semua datang dari Allah dan akhirnya kembali pada Allah. Kalau kita punya sesuatu, kemudian sesuatu itu hilang, maka itu semua takdir Allah, Allah yang mengambilnya, semua kembali pada Allah.

Dengan begitu kita lebih bisa menerima. Setelah itu berdoa minta pada Allah. Insya Allah nanti Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Banyak yang terjadi, ketika seseorang mendapat masalah yang besar, biasanya pandangan dia tertuju pada masalah itu sampai seolah-olah itulah seluruh hidup dia. Ketika itu belum kelihatan jalan keluar. Dia merasa memang mungkin tak ada jalan keluar karena begitu beratnya masalah.

Dalam Quran Allah berfirman inna maal usri yusro, fainna maal ‘usri yusro, setelah kesulitan itu ada kemudahan. Ayat ini diulang sampai dua kali. Artinya saat dapat musibah kita harus yakin bersama kesulitan itu ada kemudahan, ada jalan keluarnya. Seorang ulama mengatakan ‘’ketika dengan hikmah Allah, sebuah jalan ditutup di hadapanmu, maka dengan rahmat-Nya Allah akan membuka jalan lain yang lebih baik dari jalan yang pertama.’’

Tapi persoalannya lagi-lagi seperti kata seorang ahli motivasi di Barat. ‘’Ketika seseorang mendapatkan masalah dia seringkali tertegun terlalu lama di depan masalahnya. Ketika sebuah pintu tertutup di depan dia, seringkali dia tertegun terlalu lama di depan pintu itu, sampai-sampai ketika ada pintu lain terbuka dia tidak melihatnya.

’’Itulah sebabnya, saat terjadi musibah seberat apapun dan kita belum mendapatkan jalan keluarnya, maka katakan pada diri kita ‘’Ini memang suatu hal yang berat tapi Insya Allah setelah ini Allah akan beri kemudahan.’’ Sikap ini akan membuat kita jadi lebih tenang, lebih optimis dan kita dapat menjalani hidup seperti biasa.

Menikmati Masalah
Untuk menikmati masalah perlu proses, karena mungkin kita sudah memiliki kebiasaan-kebiasaan lama terkait dengan respon terhadap musibah. Ketika mendapat sesuatu yang tidak enak, kita sudah biasa mengeluh. Untuk sampai pada tahap sabar, menghilang keluhan, kita perlu berlatih, perlu membiasakan.

Saat proses berlatih, kadang-kadang masih kembali pada kebiasaan lama. Artinya menuju perubahan dalam bersikap, kita pun perlu bersabar, perlu terus melatih diri hingga menjadi terbiasa. Cara yang paling tepat untuk menikmati hidup tentu saja dengan pemahaman, dengan ilmu, ketika kita ma’rifah pada Allah, kita kenal dengan Allah, mengetahui sifat-sifat Allah maka semakin mendalam pemahaman, kita akan semakin sabar setiap kali mendapatkan musibah. Setelah itu mendekatkan diri pada Allah (muroqobatullah).

Semakin dekat dengan Allah, kita pun semakin tenang. Karena sebesar apapun musibah kita yakin dan bersandar pada Allah yang Maha besar. Setiap dapat musibah kita terbiasa melihat hal yang positif dari musibah tadi.

Biasanya ketika dapat musibah, kita melihat yang tidak enaknya saja, yang negatif saja. Kita lupa bahwa Allah masih menyisakan banyak hal-hal positif untuk kita. Jika sudah terbiasa melihat hal yang positif tadi, Insya Allah kita akan lebih menikmati. Setiap kali kita ingat bahwa di balik musibah itu Allah akan mengganti dengan yang lebih baik, kita pun akan lebih menikmati.

Misalnya ketika ditimpa sakit, maka sesungguhnya sakit itu adalah sarana bagi penghapusan dosanya. Ketika kehilangan sesuatu, maka sesungguhnya itu bernilai sedekah. Apa yang hilang itu akan jadi sedekah.

Sebuah kisah menceritakan ada seorang perempuan tua sedang membersihkan perabot rumahnya, karena sudah tua tangannya gemetar sehingga salah satu perabot mahal terjatuh dan pecah. Mungkin bagi sebagian orang akan jengkel kesal, uring-uringan. Perempuan tua tadi tidak. Ia beristighfar dan senyum sendiri sambil bercanda. ‘’Untung kamu (perabot, red) duluan, bukan saya. Untung perabot itu duluan yang ‘’mati’’ bukan saya’’.

Kisah lain seorang ibu yang tuli. Ia naik bis, ternyata dalam bis itu ada orang memakai alat bantu dengar. Sang ibu ini tersenyum melihat orang tadi dan dalam hatinya bergumam ‘’kamu tidak bisa mendengar saya bisa tahu (karena menggunakan alat bantu, red). Nah, saya tidak bisa mendengar, kamu pasti tidak tahu’’.

Artinya kita bisa belajar menikmati kesulitan dengan cara yang ringan seperti ini. Ini akan membantu kita. Lihatlah kesulitan itu dari sisi positifnya. Lihat nikmat yang begitu banyak yang masih Allah berikan. Sehingga dengan cara begitu pandangan kita tertuju kepada nikmat bukan kepada musibah. Makin sering kita melihat nikmat hati kita semakin bersyukur.

Salah Menyikapi, Lipatkan Masalah
Ketika kita salah menyikapi musibah, efeknya akan berlipat makin serius. Contoh kasus, ada seorang nasabah menyimpan uangnya Rp2 miliar di sebuah bank. Beberapa waktu kemudian terjadi krisis moneter di Indonesia 1997 lalu. Sehingga bank tersebut tutup. Lalu pemerintah mengambil alih bank itu.

Ditetapkan uang nasabah yang dikembalikan hanya yang bernominal Rp2 juta ke bawah. Tabungan di atas dua juta, dikembalikan dua juta dulu, sisanya akan dikembali pada waktu yang belum ditentukan.

Akhirnya nasabah tersebut stres, tidak mau makan, memikirkan hal itu setiap hari. Akhirnya jatuh sakit. Masuk rumah sakit, tetap tak mau makan hingga kondisinya makin parah. Beberapa hari kemudian ia pun meninggal dunia. Inilah contoh salah menyikapi masalah. Sebelum nasabah tadi mengetahui duitnya hilang dia tidak sakit, tidak stres. Sebetulnya dia stres dan sakit bukan karena duitnya hilang. Tapi karena mengetahui duitnya hilang. Kalau duit hilang tapi dia tidak tahu pasti tidak kepikiran.

Beberapa tahun setelah kematian, akhirnya pemerinth mengembalikan uang nasabah tersebut. Tapi orangnya sudah mati. keluarganya yang menerima. Jika dia benar dalam merespon musibah itu, ia akan tenang, sebab dia masih punya Rp2 juta.

Bukankah uang Rp2 miliar datangnya dari Allah, kalau Allah mau mengambil kapan saja bisa. Semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Sedih adalah wajar, tapi kita dapat menetralisir kesedihan itu dengan kesabaran. Kita yakin apa yang Allah tetapkan itu baik.

Raja-Menteri Positive Thinking
Berikut ini adalah cerita bagaimana seseorang memandang ujian hidup dari sisi positif. Kisah ini diceritakan oleh seorang ulama abad pertengahan, jauh sebelum ada teori positive thinking. Di sebuah kerajaan dulu ada seorang raja dan menterinya. Menteri ini sangat dekat raja. Menteri ini unik, ia sangat berpikir positif, positive thinking. Hal apa saja yang ditanya kepadanya, ia selalu menjawab ‘’baik, bagus.’’

Suatu ketika jamuan makan bersama. Raja sedang memotong buah-buahan, dan tidak sengaja sengaja ujung jarinya teriris. Raja pun kesakitan, lalu oleh pelayannya diobati. Kemudian raja bertanya ke menteri yang positive thinking ini. ‘’Apa pendapatmu tentang ini?’’. Menterinya menjawab ‘’baik, bagus raja.’’

Serta merta rajanya marah. Tangannya kesakitan, malah dikatakan baik oleh menterinya. Raja bertanya kembali ‘’Coba ulangi apa pendapat kamu tentang ini?’’ Menterinya masih dengan senyum menjawab ‘’baik raja’’. Lalu raja memanggil pengawal untuk memasukkan sang menteri ke penjara. Di sel selama semalam.

Besoknya raja mendatangi menteri tersebut di selnya dan bertanya ‘’apa pendapat kamu tentang keadaan kamu di penjara?’’. Lagi-lagi sang menteri dengan senyum khasnya menjawab ‘’baik raja’’. Bertambah marah raja, dia sebenarnya tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Akhirnya sang menteri tetap di penjara.

Beberapa hari kemudian, raja ingin berburu ke hutan. Biasanya ia ditemani oleh menteri yang positive thinking tadi, tapi karena sedang dipenjara, maka diajaklah menteri yang lain yang tidak biasa berburu. Saat asyik mengejar buruan, menterinya tertinggal dan berpisah dengan raja. Raja masuk terus ke hutan akhirnya tersesat sendirian. Mencari jalan keluar bukannya ketemu, malah makin jauh tersesat. Sehingga masuk ke sebuah kampung berpenduduk penyembah berhala.

Penduduk kampung itu mau menyelenggarakan kurban buat berhala-halanya. Kebetulan ada orang asing masuk. Ditangkaplah raja tadi. ‘’Ini cocok buat kurban, orangnya bagus, terawat, tentu tuhan-tuhan kita senang’’ begitu pendapat pemuka kampung. Si raja pucat, stres. Upacara pun disiapkan. Pada hari ‘’H’’ raja itu sudah diikat, semua penduduk sudah berkumpul. Dukun sudah baca mantra, begitu sang kurban mau dibunuh, dukunnya melihat di jari sang raja ada bekas terpotong, ada cacat.

Dukun itu pun memerintahkan penduduk untuk membatalkan membunuh sang raja, karena orang ini ada cacatnya. ‘’Kita hanya memberi yang sempurna buat tuhan-tuhan kita’’ begitu katanya.

Singkat cerita penduduk melepas sang raja. Si raja bingung. ‘’Tadi sudah hampir mau mati, tapi sekarang malah dilepas,’’ gumam raja. Sambil berjalan pulang raja merenung. ‘’Saya tidak jadi dibunuh, tidak jadi dikurbankan gara-gara jari saya ada cacat bekas terpotong’’.

Raja pun ingat dialog dengan menterinya. Saat ia terluka ketika sedang memotong buah di jamuan makan, sang menteri menjawab ‘’baik’’ ketika ditanya soal itu. Raja pun berkata: ‘’Kalau begitu betul kata menteri.’’

Singkat cerita ia pun sampai ke kerajaannya kembali dan langsung menemui sang menteri positive thinking di penjara dan menceritakan pengalamanya. Mendengar cerita itu sang menteri menjawab: ‘’Saya di penjara juga baik raja’’.

Raja balik bertanya ‘’kenapa begitu?’’ Menteri positive thinking itu sambil tersenyum menjawab: ‘’Karena, kalau tidak dipenjara pasti saya yang menemani raja berburu. Kita berdua ditangkap, raja tidak jadi dijadikan kurban, maka saya yang ditangkap dijadikan kurban, sebagai pengganti raja.’’

Ulama yang menceritakan kisah ini saat menutup kisahnya mengatakan ‘’semua yang Allah tetapkan adalah baik, hanya kita tidak selalu tahu apa kebaikannya.’’ Karena itu kita harus berprasangka baik kepada Allah, percaya kepada Allah dan jangan terlalu bersedih ketika mendapatkan musibah, sebaliknya ketika mendapat nikmat kita bersyukur pada Allah.

Proses Kreatif Buku Ini
Penulisan buku Ketika Allah Menguji Kita ini banyak dipengaruhi dari karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Saya baca versi Indonesia, judulnya Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu. Buku ini cukup berat memahaminya dan mendalam. Isinya banyak mengulas tentang takdir. Sangat menyentuh dan memberikan pemahaman. Saya mesti membaca berulang-ulang untuk memahaminya. Sementara itu masih banyak orang-orang awam dan mereka perlu diberi penjelasan dengan cara yang mudah.

Itulah awal saya memutuskan untuk menulis buku ini. Judul awalnya ‘’Menikmati di Balik Takdir’’ tapi takdirnya buku itu tidak bisa terbit dan ditolak oleh berbagai penerbit. Tentu saja banyak hikmahnya. Dulu ditulis tidak sedialogis buku ini. Buku ini lebih komunikatif.

Karena ditolak penerbit akhirnya draft-nya saya simpan. Ada kesempatan saya tulis ulang, ada kesempatan lagi ditulis ulang lagi. Hingga — alhamdulillah — Allah beri peluang terbit di Malaysia dan mendapat respon positif. Tujuan penulisan buku ini ingin memahamkan kepada pembaca bahwa takdir itu memiliki hikmah yang mendalam. Saya coba menceritakan dibumbui kisah dengan bahasa yang mudah, supaya pembaca mudah memahami.

Saya tidak ingat berapa lama proses penulisan hingga terbit. Mungkin tiga tahun. Referensi bertambah terus, pertama referensi utama buku Ibnu Qoyyim tersebut, ditambah dengan buku-buku lain. Lalu ketika ditulis ulang, rujukan bertambah terus, ada rujukan untuk kisah, ada rujukan untuk contoh kasus termasuk dari berita koran.

Sejauh ini tidak ada waktu khusus untuk menulis, dulu waktu mahasiswa kalau lagi asyik menulis, kadang dari malam sampai pagi. Artinya ketika lagi dapat ide sayang untuk ditinggalkan, kalau ditinggalkan bisa lupa. Tapi sekarang ini tidak ada waktu khusus, tapi ketika ada waktu luang, saya coba sempatkan untuk menulis. Tapi yang paling penting kita tidak boleh ketinggalan banyak baca. Rujukan-rujukan kita baca, karena dengan bacaan itulah nanti memudahkan kita dalam proses menulis.

Orang Berilmu, Menulislah!
Menulis ini perlu pembiasaan, perlu motivasi. Keinginan untuk melahirkan sebuah karya. Di awal memang lebih berat dibanding setelah itu. Setelah terpublikasi satu buku, biasanya ketagihan, ingin nulis lagi dan ingin lagi.

Saya sendiri ingin memotivasi kepada kalangan ustad, teman-teman yang punya wawasan yang baik, ilmu yang baik, nasihat-nasihat yang baik, alangkah bagusnya kalau bisa ditulis. Dilatih kemampuan menulis supaya pesan itu bisa disebarkan kepada masyarakat luas. Karena tulisan pengaruhnya lebih ‘’abadi.’’

Berbeda dengan ceramah, memori pesan dakwah kembali kepada orang-orang yang dengar saat itu dan mungkin tidak bertahan lama, tapi kalau tulisan setiap waktu orang mau merujuk orang bisa lihat tulisan tadi.

Alangkah bagus semakin hari semakin banyak dari kalangan muslim yang bisa melahirkan karya-karya yang bagus dan dibaca oleh masyarkat luas. Kita sedih, sekarang banyak buku-buku yang best seller ditulis oleh non muslim. Banyak yang isinya tidak bagus, sehingga pesan yang sampai ke masyarakat juga tidak bagus.

Kalau saja dari kita banyak yang bisa menuliskan yang bagus kemudian tersebar luas di masyarakat bahkan dengan marketing yang diperhitungkan juga tak apa-apa, asal tetap jaga keikhlasan, kita niatkan semakin tersebar luas dalam rangka dakwah. Supaya pesan yang positif itu sampai kepada masyarakat luas. Insya Allah tulisan itu akan menjadi amal yang terus berkelanjutan. Selama orang baca Insya Allah kita dapat pahalanya.***

Alwi Alatas SS
e-mail : alwialatas@gmail.com, alwialatas@yahoo.com
website : http://alwialatas.multiply.com
Buku:
* Revolusi Jilbab: Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1982-1991. 2001, Jakarta: Al-Itishom
* Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel. 2005, Jakarta: Zikrul Hakim
* Sang Penakluk Andalus, 2007, Jakarta: Zikrul Hakim
* Bahkan Para Nabi pun Iri, 2002, Jakarta: PT Akbar
* Agar Kamu Bertaqwa (Laallakum Tattaqun), 2002, Jakarta: Daarut Tarbiyah (DATA).
* Bila Allah Menduga Kita, 2010, Mustread/Ketika Allah Menguji Kita, 2010, Tarbawi Press
* Remaja Gaul Nggak Mesti Ngawur: Menggugat Konsep Remaja Modern, 2004, Jakarta: Hikmah-Mizan
* (Untuk) 13+, Remaja Juga Bisa Sukses, Bahagia, Mandiri, 2005, Jakarta: Pena.
* Bikin Gaulmu Makin Gaul, 2006, Jakarta: Hikmah-Mizan.
* Proud to be Muslim. 2006, Bandung: Syamil.
* The Real Idol, 2006, Bandung: Syamil.
* Biarkan Jilbabku Bersemi Indah, 2003, Jakarta: Zikrul Hakim
* Si Kamil dan Kaleng Cat, 2005, Jakarta: Hikmah-Mizan
* Si Kamil and the Gank, 2005, Jakarta: Hikmah-Mizan
* The Straight Path, 2006, Zikrul Hakim
* Si Kamil: Rumah Anker, 2006, Hikmah-Mizan

http://www.riaupos.com/new/artikel.php?act=full&id=111&kat=13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s