Resensi Whatever Your Problem Smile


Judul : Whatever Your Problem, Smile :
“Memperoleh Kebahagiaan Hidup Melalui Cerdas Psikospiritual”
Penulis : Alwi Alatas
Penerbit : PT. Magnify Solution
Terbit : I, Februari 2011
Tebal : 252 halaman
Harga : Rp. 55. 000

Tetap Tersenyum Saat Menghadapi Masalah

“Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kau hadapi karena disana ada kesempatan mengembangkan diri. Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri. Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif. Berusahalah mensyukuri kesulitan yang engkau hadapi sehingga kesulitan itu menjadi berkah bagimu.”

Kemudahan dan kesulitan dua kata yang sering mengiringi derap langkah hidup kita. Seperti roda, hidup kadang di atas dan di bawah. Pandangan manusia tentang kesulitan dan tantangan selalu beraneka ragam. Ada yang memandangnya sebagai ujian. Tidak sedikit yang melihatnya sebagai musibah lalu mencoba lari dari kenyataan. Bahkan, ada yang sampai pada taraf putus asa kemudian mengambil jalan pintas, bunuh diri.

Di tiap kesulitan, kesukaran, musibah, problem, atau istilah lain yang senada, pasti ada jalan keluarnya. Sayangnya, ketidakmampuan untuk menggali hikmah dari setiap tahapan tantangan kerap membuat kita resah dan galau sehingga persoalan makin lama makin menjadi-jadi.

Buku ini memaparkan kiat-kiat bagaimana menghadapi itu semua. Yang perlu digarisbawahi, jangan sampai kita melepaskan diri dari aspek spiritual. Karenanya, penulis menggunakan pendekatan psikospiritual, yaitu pendekatan yang mengharmonikan perkembangan kejiwaan dengan nilai-nilai agama (Islam).

Penulis bernama Alwi Alatas yang kini tengah menempuh program doktoral di salah satu Universitas di Malaysia, mengemas pembahasan karyanya ini dengan cukup apik. Tiap bab dihubungkan dengan kisah-kisah inspiratif yang bisa membuat kita terdorong untuk berani menerima dan menghadapi tantangan sesulit apa pun itu. Contohnya, di masa Umar bin Khatthab, pernah terjadi pertempuran antara pihak tentara Islam dengan pasukan Romawi (Byzantium). Pertempuran tersebut berjalan berat sebelah. Pasalnya, pihak Romawi didukung dengan jumlah pasukan yang begitu banyak melebihi kekuatan pasukan kaum muslimin.

Dalam keadaan genting seperti itu, panglima perang Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menulis sepucuk surat kepada Umar yang isinya mengabarkan kekhawatirannya atas kekuatan musuh yang super besar itu. Umar membalas surat tersebut dengan menulis, “Bagaiman pun kesulitan yang dihadapi seorang hamba yang beriman, Allah akan melepaskannya juga dari kesulitan itu setelahnya, dan satu kesulitan (`usrin) tidak akan mengalahkan dua kemudahan (yusran).” (hal. 103).

Dalam buku ini disebutkan beberapa manfaat yang akan kita peroleh dari persoalan hidup. Pertama, problem dan kesulitan dapat menjadikan manusia lebih kuat dan tangguh. Kesulitan bukan momok menakutkan tapi merupakan ‘pelatih’ yang melatih mental dan fisik kita agar tahan uji. Kegagalan dalam menghadapi tantangan hal yang lumrah saja. Di sinilah pentingnya sikap pantang menyerah untuk terus mencoba bangkit.

Kesuksesan orang-orang di masa dulu dan sekarang tidaklah berarti bahwa mereka tidak pernah mengalami kegagalan. Mereka pasti pernah jatuh, gagal, dan terlilit kesulitan. Tapi mereka tidak menyerah yang pada akhirnya membuat mereka jauh lebih kuat dan berhasil. Micheal Jordan, seorang pebasket handal, pernah mengatakan, “I`ve failed over and over again in my life. That is why I succeed.” (hal. 85-88).

Kedua, problem membantu kita belajar. Imam Al-Ghazali pernah mengatakan dalam Ihya` `Ulumuddin, “Jika seseorang memiliki pikiran yang mendalam, maka keadaan apapun akan menjadi pelajaran baginya.”

Kita tentu juga mengenal Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu pijar. Kita hanya tahu kesuksesan yang diraih ilmuwan ini tanpa mencoba mengetahui bagaimana liku-liku proses menemukan karya yang kita nikmati hingga detik ini. Berkali-kali ia mengalami kegagalan dalam eksperimennya. Tidak kurang dua ribu kali percobaan telah ia lakukan bersama para asistennya dan selalu kandas. Sampai suatu kali, asistennya merasa jengah dan frustasi. “Semua usaha kita sia-sia belaka. Kita tidak mempelajari apa-apa!”

Kata Thomas, “Oh, kita sudah melangkah sejauh ini dan kita sudah belajar banyak. Kita mengetahui bahwa setidaknya ada dua ribu elemen yang tidak dapat kita gunakan untuk membuat lampu yang bagus.” (hal. 88-90).

Ketiga, problem membuat kita lebih sungguh-sungguh. Seorang yang hidup dengan tantangan lalu berpikir positif dalam menghadapinya akan bersungguh-sungguh dan bekerja lebih giat mengatasi semua itu (hal. 90-91).

Keempat, kesusahan dapat mengurangi dosa dan memberi pahala bagi orang-orang yang beriman. Ada banyak hadits yang bisa menjadi hujjah atas sisi positif dari sebuah kesulitan. Di antaranya, “Tiadalah seorang muslim menderita kelelahan, sakit, kegalauan, kesedihan, siksaan, gelisah hingga duri yang mengenainya melainkan Allah menghapus dengannya dosa-dosanya.” (hal. 92-94).

Selain semua itu, masih banyak sisi manfaat kesulitan lainnya yang dipaparkan oleh penulis. Buku ini mengajak kita untuk mengenali problem dan kesulitan hidup serta cara mengatasinya. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dilengkapi dengan banyak kisah, tabel, dan bagan atau diagram yang akan memudahkan kita untuk memahami keseluruhan isinya.

Meski telah banyak buku serupa tentang pengembangan diri atau motivasi namun buku yang satu ini banyak memuat kekhasan Islam dalam mengangkat moral seseorang. Jiwa manusia yang suci lalu terpengaruh oleh gaya hidup di sekitarnya terkadang membuat kotor dan berdebu. Cara mengusap dan membersihkannya kembali seperti sedia kala bisa dilakukan ketika kita mau mengenali kesejatian hidup yang sesungguhnya : Untuk apa kita hidup dan mau apa kita hidup di dunia ini ?

Saat rampung membaca buku ini, diharapkan pandangan kita terhadap problem dan kesulitan hidup berubah sepenuhnya. Demikian pula, dada akan menjadi lapang, beban terasa ringan, dan bibir lebih mudah tersenyum saat menghadapi masalah.

(Resensi buku ini telah dimuat di Majalah Cahaya Nabawiy, rubrik Resensi Buku, Edisi 99 Dzul Hijjah 1432 H / November 2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s