Ujian dapat menjadi awal kebebasan

Beberapa bulan lalu, saya menerima pesan di inbox Facebook tentang rencana beberapa teman dari sebuah yayasan Islam untuk membuat kegiatan keislaman di penjara (lembaga pemasyarakatan/ lapas) anak pria Tanggerang. Di antara kegiatannya adalah mengumpulkan buku-buku Islam untuk dibagikan kepada anak-anak di lapas yang sebagian besarnya adalah Muslim. Kegiatan Islam yang rutin ini menjadi sangat mendesak untuk dilakukan karena ada yayasan Kristen yang berkunjung ke lapas secara intensif. Mereka memberikan kursus bahasa Inggris serta beberapa kegiatan lainnya kepada anak-anak lapas dan membagi-bagikan makanan setelah kegiatan yang mereka adakan.

Sayangnya, kegiatan dari yayasan Islam ini belum mampu untuk mengimbangi kegiatan lembaga Kristen yang lebih sering berkunjung ke lapas anak pria tersebut. Sebabnya mudah ditebak: keterbatasan dana dan SDM. Sebenarnya bukan tidak ada sama sekali lembaga-lembaga Islam yang berkunjung ke lapas tersebut. Tapi masalahnya mereka tidak berkunjung secara rutin. Biasanya hanya setahun sekali, untuk dipublikasikan di surat kabar, dan setelah itu tak ada kegiatan lagi, menunggu hingga tahun berikutnya. Selain itu ada juga para artis dan ustadz terkenal yang datang berkunjung, tetapi semuanya hanya dilakukan, meminjam istilah kawan dari yayasan Islam tadi, secara ‘tabrak lari’ dan tidak konsisten. Sehingga seorang petugas lapas yang biasa dipanggil pak haji berkata, “Kami nggak butuh artis Mbak, yang penting istiqamah.”

Saya sendiri tertarik untuk memberikan buku buat kegiatan di lapas itu, tetapi akhirnya tertunda karena tidak ada yang mengurusnya di Jakarta, sementara saya sendiri di Malaysia. Entah bagaimana jalannya, rupanya ada buku saya yang berhasil diperoleh teman-teman yayasan dan akhirnya sampai ke tangan dua orang anak penghuni lapas, Ibnu dan Nasrul. Buku itu, Ketika Allah Menguji Kita (versi Indonesia dari buku Bila Allah Menduga Kita yang terbit di Malaysia), rupanya sangat berkesan buat kedua anak lapas ini. Salah satu dari kedua anak itu mendadak jadi hobi baca setelah membaca buku tersebut. Kedua anak ini sering bertanya kepada teman-teman yayasan saat berkunjung ke lapas, “Kapan penulis buku ini datang?” (saya memang menyanggupi untuk datang kalau sedang berada di Jakarta). “Insya Allah nanti akan dikabari kalau sudah ada kepastian,” begitu jawaban yang diberikan kepada keduanya.

Salah seorang anak, Ibnu, sering termenung setiap kali ingat akan dosa-dosanya (saya sengaja tidak menyebutkan kesalahan yang mereka perbuat sehingga masuk penjara). “Apa dosa saya diampuni?” ia kadang berkata penuh penyesalan. Kepada Ibnu, saya titipkan pesan agar tidak berputus asa dan kehilangan harapan. “Kalau nanti ia bertanya lagi,” pesan saya pada kawan di yayasan itu, “berikan jawaban, ‘Ampunan Allah jauh lebih besar dari dosa-dosa kita. Jangan pernah merasa putus asa dari Kasih Sayang-Nya.’ Mudah-mudahan dia tidak terus merasa gelisah.”

Setelah Lebaran Iedul Fitri yang baru lalu, sekitar akhir Agustus 2012, akhirnya saya bisa berkunjung ke lapas anak itu, karena kebetulan sedang berada di Jakarta. Ibnu dan Nasrul langsung menghampiri begitu ada kesempatan. Mereka kelihatan senang sekali. Nasrul menceritakan tentang kesannya terhadap buku Ketika Allah Menguji Kita. Saya agak takjub karena sepertinya ia ingat sebagian besar isi buku itu. “Sebelumnya saya tak pernah membaca buku,” kata Nasrul. “Tapi ketika saya mulai membaca buku itu, saya tak bisa berhenti sampai selesai membacanya.” Alhamdulillah, saya bersyukur dalam hati.

Anak-anak lapas yang berusia antara 13-19 tahun itu kemudian mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan di mushala lapas. Ada sekumpulan anak lapas yang menyenandungkan qasidah yang indah, setelah itu mereka mendengarkan nasihat dan ceramah. Di akhir acara, kami membagikan buku-buku Islam yang tidak seberapa jumlahnya kepada mereka dan meminta mereka untuk saling berbagi dalam membacanya. Saat diminta untuk mengambil buku di bagian depan mushala, mereka berebut mengambil buku-buku itu seperti anak-anak yang sedang lapar berebut makanan. Tapi ini bukan makanan, ini buku. Mereka juga bukan anak sekolahan, mereka penghuni penjara! Kalau saja kami bisa memberi lebih banyak lagi kepada mereka.

Saat pulang ke rumah, saya berpikir, sebenarnya anak-anak ini mungkin membuka pikiran saya lebih banyak daripada buku saya membuka pikiran mereka. Untuk pertama kalinya saya melihat sendiri, bahwa di tepian ibu kota Jakarta, ada penjara yang berisi begitu banyak anak remaja. Mereka masuk ke tempat itu karena berbagai kejahatan: Narkoba, perzinahan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sebagian besar mereka Muslim dan mereka memiliki nama-nama Muslim yang bagus. Kebanyakan mereka jatuh dalam perilaku itu tampaknya disebabkan minimnya pendidikan yang baik di rumah-rumah mereka. Sebagiannya merupakan korban broken home.

Bagaimanapun, mereka memberi respons yang sangat bagus terhadap dakwah dan kegiatan Islam, walaupun kegiatan yang diberikan oleh yayasan Islam masih relatif minim, sementara ada tantangan misi dari yayasan non-Muslim. Semoga respons yang baik itu menjadi langkah awal yang dapat ‘membebaskan’ mereka, walaupun fisik mereka masih terpenjara di dalam lapas.

 

Alwi Alatas

Kuala Lumpur,

1 Muharram 1434/ 15 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s